Mengenal Ustadz Halim Ambiya, Dai Bijak Kesayangan Anak Jalanan

Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Kedatangan dai ulung Ustadz Halim Ambiya pagi tadi (22/02/2026), disambut dengan begitu meriah oleh para santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok. Ia adalah pendiri komunitas “Tasawuf Underground”. Ia dikenal sebagai pendakwah kesayangan anak-anak jalanan bahkan komunitas punk. 

Awalnya, Ustadz Halim adalah seorang aktivis dakwah di media sosial sejak 2012. Hingga pada suatu hari ia melihat kenyataan bahwa ternyata ranah dakwah tidak pernah sampai kepada masyarakat awam yang memang betul membutuhkan. 

Masyarakat yang ia soroti, adalah para anak jalanan terutama anak punk, mereka yang umumnya bergaya urakan ala rock dan bertato. Maka tak heran, hal tersebut membawa sugesti buruk di benak masyarakat sekitar. 

Ustadz Halim bilang, tak salah memang pada realitanya, sebagian komunitas anak punk ini acap kali melakukan pelanggaran sosial seperti narkoba, tawuran, mabuk-mabukan, seks bebas, melakukan aksi vandalisme dan lainnya. 

Namun, lanjutnya, menjadi suatu hal yang ironis ketika sebagian dari mereka dicurigai dan dilarang memasuki masjid hanya karena tampilannya, meski itu ke toiletnya. Akhirnya, stigma yang dihasilkan di masyarakat adalah bahwa “masjid hanya untuk orang suci.” 

Bagi Ustadz Halim, ini adalah kesalahan fatal. Sebab masjid adalah tempat bagi mereka yang ingin bersuci, apa pun bentuknya, bagaimana pun perawakan orangnya. 

Hal inilah yang kemudian menyadarkan Ustadz Halim, bahwa dakwah justru harus dimulai dan sampai manfaatnya kepada masyarakat seperti itu. Beliau pun mulai mengobservasi dan melakukan pendekatan kepada masyarakat, terkhusus kepada para anak jalanan dan anak punk. 

Langkah pertama yang dilakukannya ialah dengan menjalin hubungan sebagai seorang sahabat yang terbuka dan apa adanya. Sebab bagi Ustadz Halim, anak punk biasanya lahir dari keluarga yang rusak fungsi pengasuhan dan pendidikannya.

Sebabnya macam-macam, bisa karena perceraian, perkelahian, ataupun perselingkuhan orang tua. Mereka pun kehilangan figur untuk pulang dan berteduh, sehingga kerap membuat mereka terbiasa memendam luka emosi sendirian. 

Pendekatan awal, kata Ustadz Halim, tidak perlu ada nasihat. Cukup dengarkan cerita mereka, ajak mengobrol ringan, bahkan bila perlu ajak makan bersama. Begitulah upaya pendekatan yang sangat efektif dan telah dibuktikan langsung oleh Ustadz Halim dan komunitasnya.

Langkah kedua, memposisikan diri sebagai seorang ayah. Sebagaimana seorang ayah yang umumnya akan membela apa pun yang dilakukan oleh anaknya, Ustadz Halim dan komunitasnya pun kerap membela mereka yang tertangkap oleh polisi maupun Satpol PP, meskipun beliau juga tetap menghormati kedaulatan hukum pidana.  

Tak cukup sampai di situ, pada langkah selanjutnya, Ustadz memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang mendampingi. Salah satunya dengan mulai mengajaknya untuk meninggalkan kebiasaan buruk. 

Anak-anak jalanan itu mula-mula diajak mandi, diberikan makan guna memutus efek “fly” akibat narkoba yang dapat menghantuinya hingga berhari-hari. Mereka juga diajak untuk tinggal di tempat yang lebih baik dan sehat pergaulannya. 

Oleh sebab inilah beliau kemudian mendirikan sebuah pondok berbasis tasawuf dengan nama “Tasawuf Underground”. Setelah dapat mensterilkan mereka dari lingkungan yang dulu, Ustadz Halim kemudian memberikan mereka pekerjaan yang lebih baik, tentu sembari sedikit demi sedikit mengajarkan mereka shalat dan dzikir. 

Satu hal yang penting bagi beliau dalam proses bimbingan ini ialah aktualisasi refleksi ayat dalam kehidupan mereka. Sebab bagi Ustadz Halim, penanaman nilai Islam kepada kalangan seperti mereka haruslah rasional. 

Sebab untuk mereka, alasan “mengapa” dan “untuk apa”, lebih logis ditanyakan dari sekadar “bagaimana”. Contohnya, ketika salah seorang murid beliau yang menanyakan alasan sujud dilakukan sebanyak dua kali, padahal hanya dalam satu rakaat.

Dari pertanyaan semacam itu, beliau merasa tepat untuk menggunakan ilmu tasawuf sebagai jawaban. Ustadz Halim menyisipkan makna batin dari syariat yang dilakukan. Sujud dua kali, katanya, mengisyaratkan makna dari tanah lalu kembali ke tanah. Maka bagi beliau, konsep Pendidikan Hudurul Qalbu (menghadirkan hati) lebih utama dari sekedar melakukan dakwah tekstual. 

Semoga upaya dakwah Ustadz Halim, keilmuan dan kebijaksanaannya, bisa diteladani, secara khusus oleh para dai di Indonesia, secara umum oleh umat Islam di Indonesia.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086