Empat Alumni At-Taqwa Depok Gaungkan Peradaban Islam di FGD IAI Persis Bandung
Oleh: Tim Humas At-Taqwa
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan

Empat alumni Pesantren At-Taqwa Depok, pada Senin (11/8/25), menjadi pemateri dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan peradaban Islam dan peran mahasiswa.
FGD merupakan kolaborasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMPS-IAT) Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung dengan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dan Pemikiran (HIIMAJAPI) STID Mohammad Natsir. Acara itu juga dihadiri oleh sejumlah mahasiswa perwakilan kampus di Bandung dan sekitarnya, seperti UPI dan UIN Sunan Gunung Djati.
Diskusi tersebut berangkat dari kekawatiran mahasiswa Islam terhadap hilangnya jati diri dan peran mahasiswa dalam pembangunan peradaban Islam hari ini. Diskusi dibuka dengan berbagai materi yang disampaikan dari perwakilan mahasiswa STID M. Natsir dan IAIPI Bandung
Beberapa perwakilan mahasiswa STID Mohammad Natsir adalah Fatih Madini, Reisya Callysta, Nailufar Afif, dan Azzam Habibullah. Fatih Madini menjelaskan Islam sebagai agama yang sangat mendorong lahirnya budaya ilmu yang tinggi.
“Pemuda muslim harus melek literasi guna menjawab berbagai tantangan zaman. Pemuda muslim yang tidak suka membaca perlu dipertanyakan kembali identitas keislamannya,” tegasnya dengan mengutip cendekiawan Barat Franz Rosenthal yang mengatakan, “’ilm is Islam.”
Reisya Callysta mengangkat tema “Kebebasan dalam Perspektif Islam”. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, kebebasan bermakna “ikhtiyar”. Hal ini berasal dari kata khair yang berarti kebaikan. Maka dari itu, kebebasan dalam Islam adalah ketika seseorang dapat memilih di antara hal-hal yang baik.
Nailufar Afif membahas “Relasi antara Kebahagiaan dan Negara Bahagia ala Barat dalam Perspektif Islam”. Menurutnya, kebahagiaan sejati bukanlah pencarian tanpa akhir di dunia, melainkan keterlibatan aspek ukhrawi yang menyertainya.
Ia menilai kekeliruan Barat dalam memaknai kebahagiaan tercermin dari kesalahan dalam mendefinisikan kemajuan sebuah negara. Sebab, kriteria kemajuan, kebahagiaan, dan kemakmuran tidak bisa diukur dari aspek materi semata.
Presentasi ditutup oleh penjelasan Azzam Habibullah sebagai penyelaras dari tiga presentasi sebelumnya. Azzam — yang kini melanjutkan studi di RZS-CASIS Universiti Teknologi Malaysia — memaparkan urgensi ilmu dalam memperbaiki gejolak politik.
Mengutip Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ia menjelaskan bahwa permasalahan umat saat ini bukan hanya aspek ekonomi semata, tetapi yang paling mendesak adalah loss of adab. Dari loss of adab akan lahir confusion of knowledge (kerusakan ilmu), yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin korup (corrupt leaders).
“Rantai masalah tersebut hanya dapat diputuskan melalui tumbuhnya budaya ilmu di tengah masyarakat dan melalui pemahaman masyarakat yang benar terhadap ilmu,” tegasnya.
Sesi diskusi dimoderatori oleh Azzam Habibullah dan seorang mahasiswa IAIPI, Ridho Islamadani. Sesi ini diawali dengan pertanyaan: “Bagaimana mengetengahkan peran mahasiswa dalam peradaban Islam?”
Pertanyaan ini memantik berbagai opini, gagasan hingga bantahan. Berbagai hal lantas diketengahkan sebagai bahan diskusi, mulai dari ilmu sebagai landasan utama mahasiswa, literasi sebagai kompetensi wajib, hingga urgensi persatuan bagi tiap organisasi Islam sebagai pondasi membangun peradaban Islam Indonesia.
Selain itu, para peserta diskusi juga mengupas bagaimana mahasiswa Islam dapat memahami bahwa kuliah bukan sekedar untuk bekerja, bahwa mahasiswa Islam tidak boleh apatis dengan politik demi menguatkan umat dari cara-cara yang konstitusional, hingga urgensi mendidik keluarga sebagai bentuk paling kecil dari sebuah peradaban.
Kesimpulan yang dihasilkan dari diskusi ini adalah mahasiswa Islam perlu mengetahui jati dirinya sebagai seorang Muslim sebelum menjadi mahasiswa. Oleh seba itu, tujuan yang dibangun oleh mahasiswa Islam haruslah kembali pada kepentingan umat dan peradaban Islam.
Harapannya, forum diskusi ini menjadi langkah kecil bagi mahasiswa Islam untuk menguatkan kembali pengaruh Islam dalam peradaban dunia, dan menjadi gerakan mahasiswa yang kokoh dan tidak mudah digoyahkan.
Melalui kegiatan FGD ini, para mahasiswa sekaligus alumni Pesantren At-Taqwa Depok itu berupaya menunjukkan bahwa kiprah intelektual dan kontribusi nyata di ranah akademik maupun sosial merupakan bagian dari dakwah sekaligus tanggung jawab moral generasi muda Islam.
Harapannya, mahasiswa — khususnya yang berasal dari pesantren — dapat terus mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, serta menjaga komitmen terhadap adab dan ilmu sebagaimana diwariskan para ulama.
Alumni At-Taqwa diharapkan menjadi teladan yang tidak hanya berprestasi di bangku kuliah, tetapi juga mampu menginspirasi lingkungan dengan integritas, kepedulian, dan peran aktif dalam membangun peradaban Islam yang beradab dan berilmu.
FGD merupakan kolaborasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMPS-IAT) Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung dengan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dan Pemikiran (HIIMAJAPI) STID Mohammad Natsir. Acara itu juga dihadiri oleh sejumlah mahasiswa perwakilan kampus di Bandung dan sekitarnya, seperti UPI dan UIN Sunan Gunung Djati.
Diskusi tersebut berangkat dari kekawatiran mahasiswa Islam terhadap hilangnya jati diri dan peran mahasiswa dalam pembangunan peradaban Islam hari ini. Diskusi dibuka dengan berbagai materi yang disampaikan dari perwakilan mahasiswa STID M. Natsir dan IAIPI Bandung
Beberapa perwakilan mahasiswa STID Mohammad Natsir adalah Fatih Madini, Reisya Callysta, Nailufar Afif, dan Azzam Habibullah. Fatih Madini menjelaskan Islam sebagai agama yang sangat mendorong lahirnya budaya ilmu yang tinggi.
“Pemuda muslim harus melek literasi guna menjawab berbagai tantangan zaman. Pemuda muslim yang tidak suka membaca perlu dipertanyakan kembali identitas keislamannya,” tegasnya dengan mengutip cendekiawan Barat Franz Rosenthal yang mengatakan, “’ilm is Islam.”
Reisya Callysta mengangkat tema “Kebebasan dalam Perspektif Islam”. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, kebebasan bermakna “ikhtiyar”. Hal ini berasal dari kata khair yang berarti kebaikan. Maka dari itu, kebebasan dalam Islam adalah ketika seseorang dapat memilih di antara hal-hal yang baik.
Nailufar Afif membahas “Relasi antara Kebahagiaan dan Negara Bahagia ala Barat dalam Perspektif Islam”. Menurutnya, kebahagiaan sejati bukanlah pencarian tanpa akhir di dunia, melainkan keterlibatan aspek ukhrawi yang menyertainya.
Ia menilai kekeliruan Barat dalam memaknai kebahagiaan tercermin dari kesalahan dalam mendefinisikan kemajuan sebuah negara. Sebab, kriteria kemajuan, kebahagiaan, dan kemakmuran tidak bisa diukur dari aspek materi semata.
Presentasi ditutup oleh penjelasan Azzam Habibullah sebagai penyelaras dari tiga presentasi sebelumnya. Azzam — yang kini melanjutkan studi di RZS-CASIS Universiti Teknologi Malaysia — memaparkan urgensi ilmu dalam memperbaiki gejolak politik.
Mengutip Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ia menjelaskan bahwa permasalahan umat saat ini bukan hanya aspek ekonomi semata, tetapi yang paling mendesak adalah loss of adab. Dari loss of adab akan lahir confusion of knowledge (kerusakan ilmu), yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin korup (corrupt leaders).
“Rantai masalah tersebut hanya dapat diputuskan melalui tumbuhnya budaya ilmu di tengah masyarakat dan melalui pemahaman masyarakat yang benar terhadap ilmu,” tegasnya.
Sesi diskusi dimoderatori oleh Azzam Habibullah dan seorang mahasiswa IAIPI, Ridho Islamadani. Sesi ini diawali dengan pertanyaan: “Bagaimana mengetengahkan peran mahasiswa dalam peradaban Islam?”
Pertanyaan ini memantik berbagai opini, gagasan hingga bantahan. Berbagai hal lantas diketengahkan sebagai bahan diskusi, mulai dari ilmu sebagai landasan utama mahasiswa, literasi sebagai kompetensi wajib, hingga urgensi persatuan bagi tiap organisasi Islam sebagai pondasi membangun peradaban Islam Indonesia.
Selain itu, para peserta diskusi juga mengupas bagaimana mahasiswa Islam dapat memahami bahwa kuliah bukan sekedar untuk bekerja, bahwa mahasiswa Islam tidak boleh apatis dengan politik demi menguatkan umat dari cara-cara yang konstitusional, hingga urgensi mendidik keluarga sebagai bentuk paling kecil dari sebuah peradaban.
Kesimpulan yang dihasilkan dari diskusi ini adalah mahasiswa Islam perlu mengetahui jati dirinya sebagai seorang Muslim sebelum menjadi mahasiswa. Oleh seba itu, tujuan yang dibangun oleh mahasiswa Islam haruslah kembali pada kepentingan umat dan peradaban Islam.
Harapannya, forum diskusi ini menjadi langkah kecil bagi mahasiswa Islam untuk menguatkan kembali pengaruh Islam dalam peradaban dunia, dan menjadi gerakan mahasiswa yang kokoh dan tidak mudah digoyahkan.
Melalui kegiatan FGD ini, para mahasiswa sekaligus alumni Pesantren At-Taqwa Depok itu berupaya menunjukkan bahwa kiprah intelektual dan kontribusi nyata di ranah akademik maupun sosial merupakan bagian dari dakwah sekaligus tanggung jawab moral generasi muda Islam.
Harapannya, mahasiswa — khususnya yang berasal dari pesantren — dapat terus mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, serta menjaga komitmen terhadap adab dan ilmu sebagaimana diwariskan para ulama.
Alumni At-Taqwa diharapkan menjadi teladan yang tidak hanya berprestasi di bangku kuliah, tetapi juga mampu menginspirasi lingkungan dengan integritas, kepedulian, dan peran aktif dalam membangun peradaban Islam yang beradab dan berilmu.