Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman: Menelusuri Jejak Ulama Persis Asal Betawi
Oleh: Shofwan Azmi Al-Faruq (Santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Di Indonesia, terdapat banyak organisasi Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan umat, salah satunya Persatuan Islam (PERSIS). Ketika berbicara tentang PERSIS, sebagian dari kita mungkin langsung teringat pada pengaruhnya yang cukup kuat di wilayah Jawa Barat. Padahal, tidak sedikit ulama besar PERSIS yang berasal dari daerah lain. Salah satunya adalah Mualim Muhammad Ali Alhamidy, ulama Betawi yang kini namanya mulai jarang dikenal.
Oleh karena itu, pada Ahad malam, 20 September 2026, Pondok Pesantren At-Taqwa Depok bekerja sama dengan Pusdok Tamaddun mengadakan seminar daring bertajuk “Ulama Persis Betawi yang Terlupakan: Ali Alhamidy Matraman 1909-1985”. Seminar ini menghadirkan Ustaz Muhammad Ericson Ziad dan Ustaz Hadi Nur Ramadhan sebagai pemateri. Sejumlah peserta turut hadir, termasuk beberapa tokoh PERSIS. Salah satu anggota keluarga besar Ali Alhamidy, Bapak Cholil Fauzat, juga mengikuti seminar tersebut.
Ali Alhamidy lahir di Matraman, Batavia (Jakarta), pada 20 September 1909. Namanya tercatat dalam genealogi intelektual ulama Betawi. Ia sempat menempuh pendidikan di Madrasah Unwanul Falah yang diasuh langsung oleh Habib Ali Kwitang. Setelah itu, Alhamidy melanjutkan perjalanan intelektualnya dengan berguru kepada Ahmad Soorkati, ulama modern sekaligus pendiri Al-Irsyad. Dari Soorkati, pemikiran pembaruan banyak memengaruhi dirinya. Sementara itu, pemahaman keagamaan yang lebih mendalam ia peroleh dari gurunya yang lain, Ahmad Hasan.
Pada masa itu, pemahaman keagamaan masyarakat Betawi cukup kuat dengan corak tradisional. Di tengah kondisi tersebut, muncul sejumlah ulama yang membawa gagasan pembaruan, salah satunya Alhamidy. Keulamaannya pun diakui oleh sejumlah tokoh besar, seperti Kiai Saifuddin Amsir, Mohammad Natsir, dan Hamka.
Tidak hanya aktif berdakwah, Alhamidy juga dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Ia meninggalkan banyak buku dan naskah dengan beragam tema, mulai dari akidah, akhlak, tasawuf, hingga persoalan perempuan. Salah satu karyanya yang berjudul Ruh Mimbar bahkan kerap dijadikan rujukan, khususnya oleh masyarakat Betawi, dalam menyusun khutbah Jumat.
Banyak karya Alhamidy ditulis menggunakan bahasa Arab-Melayu atau Jawi. Ia juga menulis kitab tafsir berjudul Tafsir Hidayatullah. Salah satu keistimewaan tafsir tersebut adalah upaya Alhamidy mengontekstualisasikan ayat-ayat Al-Qur`an dengan kondisi masyarakat pada zamannya.
Keistimewaan lain dari karya-karya Alhamidy terletak pada proses produksinya. Ia menulis karya-karyanya dengan tangan, kemudian mencetaknya sendiri menggunakan mesin stensil. Hal ini menunjukkan betapa besar kesungguhan Alhamidy dalam menyebarkan ilmu kepada masyarakat, meskipun dengan sarana yang terbatas.
Dalam perjalanan hidupnya, berbagai amanah besar juga pernah dipikul Alhamidy. Ia pernah menjadi penulis rubrik agama di majalah Hikmah dan Al-Lisaan, menjadi pentashih mushaf Al-Qur`an, hingga dipercaya menduduki jabatan Pegawai Menengah Tingkat Satu pada masa awal kemerdekaan, di Kementerian Penerangan pada 1946.
Dalam berdakwah, Alhamidy juga dikenal cerdas membaca keadaan masyarakat. Ustaz Eric menceritakan sebuah kisah ketika salah seorang jamaah bertanya kepadanya mengenai hukum mengikuti acara nujuh bulan. Alhamidy menjawab dengan candaan, “Ngapain nujuh bulan, capek, harus pakai roket.”
Jawaban tersebut menunjukkan bagaimana Alhamidy menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Ia tidak hanya menyampaikan hukum secara kaku, tetapi terlebih dahulu memahami kondisi jamaah yang dihadapinya. Dengan cara itulah dakwah dapat diterima dengan lebih baik.
Lantas, mengapa sosok seperti Ali Alhamidy mulai terlupakan?
Ustaz Eric menjelaskan setidaknya ada lima sebab. Pertama, bahasa Arab-Melayu yang semakin ditinggalkan oleh banyak orang. Kedua, sebagian keluarga dan muridnya tidak lagi melanjutkan perjuangan dakwah serta mengajarkan karya-karyanya. Ketiga, masih sedikit peneliti yang secara khusus mengkaji pemikiran dan karya Alhamidy. Keempat, peran ulama yang mulai mengalami distorsi. Kelima, generasi sekarang yang semakin kurang mengenal ulama dan enggan membaca karya-karya mereka.
Padahal, dari perjalanan hidup Alhamidy, kita dapat melihat bagaimana seorang ulama tidak hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga melalui tulisan, pendidikan, dan kedekatannya dengan masyarakat. Ia mewariskan ilmu dalam bentuk karya-karya yang lahir dari pergulatan dengan persoalan umat pada zamannya.
Karena itu, sudah sepatutnya kita, khususnya generasi muda, kembali mengenal ulama-ulama seperti Muhammad Ali Alhamidy. Salah satunya dengan membaca, meneliti, dan mengkaji kembali karya-karya yang telah mereka tinggalkan. Jangan sampai warisan intelektual para ulama hilang hanya karena kita tidak lagi mengenal bahasa dan karya mereka.
Sebab, apa yang telah diwariskan para ulama tidak semestinya berhenti sebagai catatan sejarah. Ia perlu dibaca kembali, dipahami, dan diambil manfaatnya untuk menjawab persoalan umat hari ini. Jika bukan generasi kita yang mengenal dan melanjutkan jejak mereka, lalu siapa lagi?
Oleh karena itu, pada Ahad malam, 20 September 2026, Pondok Pesantren At-Taqwa Depok bekerja sama dengan Pusdok Tamaddun mengadakan seminar daring bertajuk “Ulama Persis Betawi yang Terlupakan: Ali Alhamidy Matraman 1909-1985”. Seminar ini menghadirkan Ustaz Muhammad Ericson Ziad dan Ustaz Hadi Nur Ramadhan sebagai pemateri. Sejumlah peserta turut hadir, termasuk beberapa tokoh PERSIS. Salah satu anggota keluarga besar Ali Alhamidy, Bapak Cholil Fauzat, juga mengikuti seminar tersebut.
Ali Alhamidy lahir di Matraman, Batavia (Jakarta), pada 20 September 1909. Namanya tercatat dalam genealogi intelektual ulama Betawi. Ia sempat menempuh pendidikan di Madrasah Unwanul Falah yang diasuh langsung oleh Habib Ali Kwitang. Setelah itu, Alhamidy melanjutkan perjalanan intelektualnya dengan berguru kepada Ahmad Soorkati, ulama modern sekaligus pendiri Al-Irsyad. Dari Soorkati, pemikiran pembaruan banyak memengaruhi dirinya. Sementara itu, pemahaman keagamaan yang lebih mendalam ia peroleh dari gurunya yang lain, Ahmad Hasan.
Pada masa itu, pemahaman keagamaan masyarakat Betawi cukup kuat dengan corak tradisional. Di tengah kondisi tersebut, muncul sejumlah ulama yang membawa gagasan pembaruan, salah satunya Alhamidy. Keulamaannya pun diakui oleh sejumlah tokoh besar, seperti Kiai Saifuddin Amsir, Mohammad Natsir, dan Hamka.
Tidak hanya aktif berdakwah, Alhamidy juga dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Ia meninggalkan banyak buku dan naskah dengan beragam tema, mulai dari akidah, akhlak, tasawuf, hingga persoalan perempuan. Salah satu karyanya yang berjudul Ruh Mimbar bahkan kerap dijadikan rujukan, khususnya oleh masyarakat Betawi, dalam menyusun khutbah Jumat.
Banyak karya Alhamidy ditulis menggunakan bahasa Arab-Melayu atau Jawi. Ia juga menulis kitab tafsir berjudul Tafsir Hidayatullah. Salah satu keistimewaan tafsir tersebut adalah upaya Alhamidy mengontekstualisasikan ayat-ayat Al-Qur`an dengan kondisi masyarakat pada zamannya.
Keistimewaan lain dari karya-karya Alhamidy terletak pada proses produksinya. Ia menulis karya-karyanya dengan tangan, kemudian mencetaknya sendiri menggunakan mesin stensil. Hal ini menunjukkan betapa besar kesungguhan Alhamidy dalam menyebarkan ilmu kepada masyarakat, meskipun dengan sarana yang terbatas.
Dalam perjalanan hidupnya, berbagai amanah besar juga pernah dipikul Alhamidy. Ia pernah menjadi penulis rubrik agama di majalah Hikmah dan Al-Lisaan, menjadi pentashih mushaf Al-Qur`an, hingga dipercaya menduduki jabatan Pegawai Menengah Tingkat Satu pada masa awal kemerdekaan, di Kementerian Penerangan pada 1946.
Dalam berdakwah, Alhamidy juga dikenal cerdas membaca keadaan masyarakat. Ustaz Eric menceritakan sebuah kisah ketika salah seorang jamaah bertanya kepadanya mengenai hukum mengikuti acara nujuh bulan. Alhamidy menjawab dengan candaan, “Ngapain nujuh bulan, capek, harus pakai roket.”
Jawaban tersebut menunjukkan bagaimana Alhamidy menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Ia tidak hanya menyampaikan hukum secara kaku, tetapi terlebih dahulu memahami kondisi jamaah yang dihadapinya. Dengan cara itulah dakwah dapat diterima dengan lebih baik.
Lantas, mengapa sosok seperti Ali Alhamidy mulai terlupakan?
Ustaz Eric menjelaskan setidaknya ada lima sebab. Pertama, bahasa Arab-Melayu yang semakin ditinggalkan oleh banyak orang. Kedua, sebagian keluarga dan muridnya tidak lagi melanjutkan perjuangan dakwah serta mengajarkan karya-karyanya. Ketiga, masih sedikit peneliti yang secara khusus mengkaji pemikiran dan karya Alhamidy. Keempat, peran ulama yang mulai mengalami distorsi. Kelima, generasi sekarang yang semakin kurang mengenal ulama dan enggan membaca karya-karya mereka.
Padahal, dari perjalanan hidup Alhamidy, kita dapat melihat bagaimana seorang ulama tidak hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga melalui tulisan, pendidikan, dan kedekatannya dengan masyarakat. Ia mewariskan ilmu dalam bentuk karya-karya yang lahir dari pergulatan dengan persoalan umat pada zamannya.
Karena itu, sudah sepatutnya kita, khususnya generasi muda, kembali mengenal ulama-ulama seperti Muhammad Ali Alhamidy. Salah satunya dengan membaca, meneliti, dan mengkaji kembali karya-karya yang telah mereka tinggalkan. Jangan sampai warisan intelektual para ulama hilang hanya karena kita tidak lagi mengenal bahasa dan karya mereka.
Sebab, apa yang telah diwariskan para ulama tidak semestinya berhenti sebagai catatan sejarah. Ia perlu dibaca kembali, dipahami, dan diambil manfaatnya untuk menjawab persoalan umat hari ini. Jika bukan generasi kita yang mengenal dan melanjutkan jejak mereka, lalu siapa lagi?