Meluruskan Niat, Meneguhkan Takwa: Bekal Santri At-Taqwa Jalani Rihlah Ilmiah & Sejarah

Oleh: Tsar Atthabarani Syihab (Santri SMP At-Taqwa Depok, 16 Tahun)
Artikel Ilmiah Liputan Kegiatan
gambar_artikel

Pada Jumat sore, 16 Oktober 2026, kami, santri At-Taqwa jenjang Wustha 3 (SMP 3), mengikuti pengarahan sebelum keberangkatan rihlah menuju Pandaan. Pengarahan disampaikan langsung oleh Mudir Pesantren At-Taqwa, Ustadz Muhammad Ardiansyah. Selain untuk menertibkan keberangkatan, pengarahan ini bertujuan mengingatkan kami akan maksud dan tujuan di balik perjalanan tersebut.

Ustadz Ardiansyah kembali mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Belajar merupakan aktivitas yang membutuhkan niat jangka panjang. Karena itu, niat perlu senantiasa diperbarui seiring dengan proses belajar yang dijalani. Dalam rihlah ini, keikhlasan menuntut ilmu harus tetap menjadi landasan. Meskipun perjalanan ini menyenangkan, tujuan utama kami tetaplah mencari ilmu dari para guru yang akan ditemui di sana.

Sebagai penuntut ilmu, kami juga dianjurkan untuk belajar dari beragam guru, bukan terpaku pada satu guru saja. Setiap guru memiliki pengalaman, karakter, dan ciri khas yang berbeda. Dari perbedaan tersebut, kami dapat menghimpun berbagai ilmu sekaligus mengambil pelajaran dari kepribadian dan keteladanan masing-masing guru.

Nasihat tentang ketakwaan turut menjadi bagian penting dalam pengarahan. Takwa berarti melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagai santri Pesantren At-Taqwa, sudah semestinya nilai tersebut tercermin dalam perilaku kami, termasuk ketika berada di luar lingkungan pesantren.

Ustadz Ardiansyah mengingatkan bahwa rihlah juga menjadi ujian bagi ketakwaan kami. Selama berada di pesantren, perilaku santri berada dalam pengawasan mudabir (pembimbing) dan para ustadz. Namun, ketika berada di Pandaan, pengawasan itu tidak lagi sama seperti di pesantren. Dalam keadaan demikian, kami dituntut untuk tetap menjaga diri, sekalipun tidak ada pembimbing yang mengawasi secara langsung. Sebab, ketakwaan bukan hanya tentang bagaimana seseorang bersikap ketika diawasi, melainkan juga bagaimana ia menjaga dirinya ketika memiliki kebebasan.

Kami juga diingatkan untuk menjaga etika dan moral demi memelihara nama baik diri sendiri, angkatan, pesantren, dan kedua orang tua. Perbuatan buruk yang dilakukan oleh satu orang dapat berdampak pada nama baik seluruh kelompok. Karena itu, apabila ada teman yang melakukan perbuatan menyimpang, sudah menjadi kewajiban kami untuk saling mengingatkan. Menjaga nama baik bukan semata-mata tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama.

Selain itu, Ustadz Ardiansyah menasihati kami agar menjaga kesehatan dan tidak berlebihan dalam membelanjakan uang. Salah satunya dengan lebih selektif memilih makanan dan mengurangi kebiasaan jajan yang tidak diperlukan. Makanan bergizi, seperti nasi sebagai sumber karbohidrat, ayam sebagai sumber protein, sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral, serta buah-buahan sebagai sumber vitamin, perlu menjadi prioritas. Dengan begitu, kami dapat lebih memperhatikan kebutuhan tubuh sekaligus menghindari pengeluaran yang berlebihan.

Pengarahan ini menjadi pengingat bahwa rihlah bukan sekadar perjalanan untuk bersenang-senang atau mengunjungi tempat baru. Ada niat menuntut ilmu yang perlu dijaga, ketakwaan yang perlu dibuktikan, adab yang perlu dipelihara, serta tanggung jawab yang perlu ditunaikan. Pada akhirnya, keberhasilan rihlah tidak hanya diukur dari pengalaman yang diperoleh, tetapi juga dari sejauh mana nasihat yang telah disampaikan mampu kami wujudkan dalam sikap dan perbuatan.

AT-TAQWA DEPOK
Jl. Usman Hasbi, RT.04 RW 04 Jatimulya, Cilodong - Depok
info@attaqwa.id
(+62)856 0980 9086