KH. Muhammad Ali Alhamidy (1909-1985): Ulama Persis dari Betawi yang Mulai Terlupakan
Oleh: Afkarmalik Hasan (Santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok)
Artikel Ilmiah
Liputan Kegiatan
Ketika mendengar Persatuan Islam (Persis), mungkin sebagian dari kita akan langsung teringat dengan Jawa Barat. Wajar saja. Banyak tokoh Persis yang muncul dan terkenal dari masyarakat Sunda. Bahkan, tidak jarang muncul plesetan Persis sebagai “Persatuan Islam Sunda”. Namun, di tengah kuatnya kesan tersebut, terdapat seorang tokoh Persis yang justru berasal dari Betawi. Sayangnya, nama tokoh ini kini mulai terlupakan.
Ialah KH. Muhammad Ali Alhamidy. Ia lahir di Matraman pada 20 September 1909. Jika melihat tahun kelahirannya, ia “satu angkatan” dengan Hamka dan Mohammad Natsir. Alhamidy sendiri termasuk dalam genealogi ulama Betawi. Ia pernah belajar kepada Habib Ali Kwitang di Madrasah Unwanul Falah. Pemikiran keagamaan Habib Ali Kwitang kemudian cukup berpengaruh dalam diri Alhamidy.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Jamiatul Khair dan berguru kepada Syaikh Ahmad Soorkati yang dikenal membawa pemikiran modernis. Dari sinilah Alhamidy banyak mendapat pengaruh pemikiran modernis. Latar pendidikan tersebut kemudian menjadi bekal penting baginya ketika berdakwah di tengah masyarakat Betawi.
Setelah lulus dari Jamiatul Khair, Alhamidy mulai menyebarkan gagasan modernisnya di tengah masyarakat Betawi. Meskipun saat itu masyarakat Betawi mayoritas masih menganut pemikiran tradisionalis, dakwah Alhamidy dapat diterima dengan baik. Salah satu sebabnya adalah cara dakwahnya yang dekat dengan masyarakat. Ia sering menggunakan humor dan candaan ketika menyampaikan dakwah.
Alhamidy pun mulai dikenal sebagai ulama muda yang modernis. Rumahnya di kawasan Matraman Dalam ramai dikunjungi orang-orang yang ingin belajar agama. Dari rumah tersebut, pengajaran agama dan dakwah terus berjalan di tengah masyarakat.
Aktivitas Alhamidy tidak berhenti dalam berdakwah. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi, salah satunya Persis. Ia menjadi salah satu penggagas terbentuknya Persis di Batavia. Pada masa awal kemerdekaan, ia sempat diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Penerangan. Ia juga pernah menjadi anggota Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`an.
Dalam bidang politik, Alhamidy aktif di Partai Masyumi. Ia juga dekat dengan sejumlah tokoh, salah satunya Mohammad Natsir. Kedekatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Alhamidy tidak hanya berada di ruang dakwah dan pendidikan, tetapi juga bersentuhan dengan dinamika umat dan kehidupan kebangsaan pada masanya.
Di samping aktif berdakwah dan berorganisasi, Alhamidy termasuk ulama yang produktif menulis. Ia banyak menulis buku menggunakan aksara Arab Melayu. Sebagian karyanya masih berupa tulisan tangan yang kemudian digandakan dengan mesin stensil. Sebagian lainnya mulai ditransliterasi ke huruf Latin dan diterbitkan oleh penerbit.
Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah Adabul Insan Fil Islam. Kitab yang ditulis menggunakan aksara Arab Melayu ini membahas tentang adab manusia terhadap dirinya. Hingga saat ini, kitab tersebut masih dikaji di Pesantren At-Taqwa Depok.
Tidak hanya mengenai adab, Alhamidy juga menulis sebuah kitab tafsir tematis yang berjudul Hidayatullah. Yang menarik dari kitab ini adalah usaha Alhamidy mengontekstualisasikan ayat-ayat Al-Qur`an dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya. Misalnya, ia membahas Pemilu 1955 dan bagaimana umat Islam menyikapi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Menurut penuturan cucu KH. Muhammad Ali Alhamidy, Chalil Fauzat, Alhamidy menuliskan materi khutbah tersebut dengan aksara Arab Melayu dan mencetaknya sendiri. Para khatib kemudian datang untuk mengambil materi khutbah tersebut. Bahkan hingga saat ini, materi khutbah Jumat karya Alhamidy masih digunakan oleh para khatib di Jakarta.
Melihat kiprah dan karya-karyanya, muncul satu pertanyaan: mengapa KH. Muhammad Ali Alhamidy mulai terlupakan?
Salah satu penyebabnya adalah dakwah Alhamidy yang tidak banyak dilanjutkan oleh keluarga dan murid-muridnya. Anak dan cucunya lebih banyak berkiprah di bidang-bidang umum, seperti kedokteran, militer, dan bidang lainnya. Selain itu, penggunaan aksara Arab Melayu juga mulai ditinggalkan. Akibatnya, karya-karya Alhamidy yang ditulis dengan aksara tersebut semakin jarang dibaca.
Di tengah perkembangan media sosial, tantangan untuk mengenalkan kembali warisan ulama kepada generasi muda tentu semakin besar. Penelitian mengenai sosok dan karya-karya Alhamidy pun masih jarang ditemukan. Padahal, masih banyak karya Alhamidy yang menarik dan berbobot, tetapi belum dikaji secara mendalam.
Karena itu, mengenal kembali KH. Muhammad Ali Alhamidy menjadi penting, khususnya bagi generasi muda Muslim. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Persis, tetapi juga bagian dari sejarah ulama Betawi dan perkembangan pemikiran Islam di Jakarta.
Untuk mengenal pemikirannya, kita juga perlu kembali membaca karya-karyanya. Salah satunya dengan mempelajari aksara Arab Melayu yang menjadi media tulis banyak ulama pada masanya. Dengan begitu, karya-karya Alhamidy tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap dapat dibaca dan dikaji oleh generasi setelahnya.
Ialah KH. Muhammad Ali Alhamidy. Ia lahir di Matraman pada 20 September 1909. Jika melihat tahun kelahirannya, ia “satu angkatan” dengan Hamka dan Mohammad Natsir. Alhamidy sendiri termasuk dalam genealogi ulama Betawi. Ia pernah belajar kepada Habib Ali Kwitang di Madrasah Unwanul Falah. Pemikiran keagamaan Habib Ali Kwitang kemudian cukup berpengaruh dalam diri Alhamidy.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Jamiatul Khair dan berguru kepada Syaikh Ahmad Soorkati yang dikenal membawa pemikiran modernis. Dari sinilah Alhamidy banyak mendapat pengaruh pemikiran modernis. Latar pendidikan tersebut kemudian menjadi bekal penting baginya ketika berdakwah di tengah masyarakat Betawi.
Setelah lulus dari Jamiatul Khair, Alhamidy mulai menyebarkan gagasan modernisnya di tengah masyarakat Betawi. Meskipun saat itu masyarakat Betawi mayoritas masih menganut pemikiran tradisionalis, dakwah Alhamidy dapat diterima dengan baik. Salah satu sebabnya adalah cara dakwahnya yang dekat dengan masyarakat. Ia sering menggunakan humor dan candaan ketika menyampaikan dakwah.
Alhamidy pun mulai dikenal sebagai ulama muda yang modernis. Rumahnya di kawasan Matraman Dalam ramai dikunjungi orang-orang yang ingin belajar agama. Dari rumah tersebut, pengajaran agama dan dakwah terus berjalan di tengah masyarakat.
Aktivitas Alhamidy tidak berhenti dalam berdakwah. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi, salah satunya Persis. Ia menjadi salah satu penggagas terbentuknya Persis di Batavia. Pada masa awal kemerdekaan, ia sempat diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Penerangan. Ia juga pernah menjadi anggota Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`an.
Dalam bidang politik, Alhamidy aktif di Partai Masyumi. Ia juga dekat dengan sejumlah tokoh, salah satunya Mohammad Natsir. Kedekatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Alhamidy tidak hanya berada di ruang dakwah dan pendidikan, tetapi juga bersentuhan dengan dinamika umat dan kehidupan kebangsaan pada masanya.
Di samping aktif berdakwah dan berorganisasi, Alhamidy termasuk ulama yang produktif menulis. Ia banyak menulis buku menggunakan aksara Arab Melayu. Sebagian karyanya masih berupa tulisan tangan yang kemudian digandakan dengan mesin stensil. Sebagian lainnya mulai ditransliterasi ke huruf Latin dan diterbitkan oleh penerbit.
Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah Adabul Insan Fil Islam. Kitab yang ditulis menggunakan aksara Arab Melayu ini membahas tentang adab manusia terhadap dirinya. Hingga saat ini, kitab tersebut masih dikaji di Pesantren At-Taqwa Depok.
Tidak hanya mengenai adab, Alhamidy juga menulis sebuah kitab tafsir tematis yang berjudul Hidayatullah. Yang menarik dari kitab ini adalah usaha Alhamidy mengontekstualisasikan ayat-ayat Al-Qur`an dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya. Misalnya, ia membahas Pemilu 1955 dan bagaimana umat Islam menyikapi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Menurut penuturan cucu KH. Muhammad Ali Alhamidy, Chalil Fauzat, Alhamidy menuliskan materi khutbah tersebut dengan aksara Arab Melayu dan mencetaknya sendiri. Para khatib kemudian datang untuk mengambil materi khutbah tersebut. Bahkan hingga saat ini, materi khutbah Jumat karya Alhamidy masih digunakan oleh para khatib di Jakarta.
Melihat kiprah dan karya-karyanya, muncul satu pertanyaan: mengapa KH. Muhammad Ali Alhamidy mulai terlupakan?
Salah satu penyebabnya adalah dakwah Alhamidy yang tidak banyak dilanjutkan oleh keluarga dan murid-muridnya. Anak dan cucunya lebih banyak berkiprah di bidang-bidang umum, seperti kedokteran, militer, dan bidang lainnya. Selain itu, penggunaan aksara Arab Melayu juga mulai ditinggalkan. Akibatnya, karya-karya Alhamidy yang ditulis dengan aksara tersebut semakin jarang dibaca.
Di tengah perkembangan media sosial, tantangan untuk mengenalkan kembali warisan ulama kepada generasi muda tentu semakin besar. Penelitian mengenai sosok dan karya-karya Alhamidy pun masih jarang ditemukan. Padahal, masih banyak karya Alhamidy yang menarik dan berbobot, tetapi belum dikaji secara mendalam.
Karena itu, mengenal kembali KH. Muhammad Ali Alhamidy menjadi penting, khususnya bagi generasi muda Muslim. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Persis, tetapi juga bagian dari sejarah ulama Betawi dan perkembangan pemikiran Islam di Jakarta.
Untuk mengenal pemikirannya, kita juga perlu kembali membaca karya-karyanya. Salah satunya dengan mempelajari aksara Arab Melayu yang menjadi media tulis banyak ulama pada masanya. Dengan begitu, karya-karya Alhamidy tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap dapat dibaca dan dikaji oleh generasi setelahnya.