Sifat Dua Puluh dan Tantangan Sekulerisme (2/2)

Lanjutan dari bagian satu

Urgensi Memahami Sifat Dua Puluh

Tentu, pada hakikatnya ketika agama dan Tuhan disingkirkan akan terjadi banyak masalah. Disinilah urgensi akidah, terutama kajian tentang sifat dua puluh bagi Allah mesti ditanamkan kepada umat Islam sejak lama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim-nya, bahwa ilmu akidah mesti didahulukan. Begitu juga kata Imam Ghazali dan para ulama lainnya. Maka, ada baiknya setiap Muslim memahami beberapa sifat Allah dari dua puluh sifat itu disini, sebagai pengawal serta benteng pertama akidah dari serangan sekularisme.

Pertama, Wujud. Keberadaan Allah itu wajib hukumnya, sehingga mustahil jika Allah ‘Adam, atau tidak ada. Imam Bajuri dalam kitabnya yang terkenal dengan nama Risalatul Bajuri fi ‘Ilmi al-Tauhid, menjelaskan, bahwa dalil wujudnya Allah adalah wujud makhluk-makhlukNya. Sebetulnya darisinilah kita bisa mengerti bahwa semua yang ada di alam semesta ini, tidak bisa dilepaskan dengan unsur Tuhan. Artinya, ada keterkaitan satu sama lain. Sebab, logika dasarnya, tidak mungkin alam semesta beserta isinya bisa ada dengan sendirinya. Tentu menjadi hal yang wajar bahkan wajib, jika kita berkesimpulan bahwa Tuhan-lah (dalam konteks ini Allah) yang meng-adakan alam ini. Namun, tidaklah benar bahwa sesuatu yang wujud itu mesti tampak atau setidaknya terindera. Sebab, tidak semua yang tidak tampak itu tidak ada. Apakah ketidak tampakan hati dan otak membuat kita harus berkesimpulan bahwa keduanya tidak ada? Maka, sebetulnya inilah dalil bahwa Allah mesti disangkutpautkan dengan segala urusan duniawi.

Itulah mengapa al-Attas mengatakan bahwa alam semesta adalah Kitab Agung yang terbuka. Artinya alam ini layaknya al-Qur’an yang memiliki tanda-tanda atau ayat untuk sampai kepada Tuhan yang sifatnya metafisik. Jika al-Qur’an dibaca secara literal, maka alam ini dibaca secara nalar. Itulah mengapa Allah berfirman bahwa tanda-tanda yang Ia sematkan di setiap penciptaanNya hanya bisa ditemukan dan dipahami oleh orang-orang yang mau berfikir (QS. 3: 190). Maka, seandainya manusia mau berfikir sejenak tentang realitas alam semesta ini, mesti ia akan menemukan Tuhannya. Lebih-lebih ketika ia mau melihat dan merenungi dirinya sendiri, ia akan semakin insaf akan kewujudan Tuhan (QS 51: 21). Dan konsekuensinya, mesti ia akan menyertakan Tuhannya di setiap gerak-geriknya.

“Insan telah dianugerahi kemuliaan istimewa di kalangan makhluk jelata dengan perlantikannya oleh Allah, Subhanahu wa Ta’ala, sebagai Khalifah; sebagai wakilNya bagi mengawal serta mempergunakan dan memerintah kerajaan alam tabii dengan adil. Perlantikan ini tiada pula bermaksud memberi ma’na bahawa insan harus menganggap dirinya sebagai ‘bersekutu’ dengan Tuhan dalam perkara mencipta sesuatu, sehingga dia boleh berleluasa mempergunakan alam sesuka hatinya… Dia harus berlaku adil terhadap alam, dan harus mencapai kesaksamaan yang mesra dengannya. Kerajaan alam tabii itu sebenarnya bukan milik insan, tetapi hanyalah diamanahkan kepadanya sejauh mana yang terdaya baginya oleh Yang memiliki Semua; maka dia harus memelihara alam dan mempergunakannya dengan cara yang diredai Allah Pemiliki Semesta Sekalian; dan diada pula harus dia bergegabah terhadapnya, menyalahgunakannya sehingga menyebarkan huru-hara di dalamnya” (Al-Attas, “Risalah Untuk Kaum Muslimin.” 2001: 206-207).

Kedua, Qudrah. Sebetulnya, jika setiap manusia paham betul akan sifat ini. Mestinya ia tidak akan berani menyingkirkan Allah dari kehidupannya. Imam Bajuri kembali menjelaskan bahwa, melalui sifat inilah Allah mempunyai hak untuk mengadakan dan meniadakan sesuatu. Dan ini wajib bagiNya. Sebab, seandainya Allah lemah atau ‘Ajiz, tidak mungkin ia bisa mengadakan alam semesta beserta isi-isinya. Dengan sifat ini saja, kita bisa mengerti bahwa akan ada balasan yang manusia terima ketika berbuat tidak sesuai dengan apa yang diwahyukan olehNya. Baik berupa bencana alam, ataupun musibah lainnya.

Kemudian, kaum sekular mengatakan bahwa tidak masuk akal dan tidak ada hubungannya antara bencana alam (yang kita percaya sebagai ujian atau azab dari Allah) dengan buruknya tingkah laku manusia. Bagi mereka tidak ada hubungannya antara moral dengan bencana alam. Padahal kalau kita membuat ilustrasi dengan diri manusia yang lain, tentu hal itu sangat berhubungan. Ibarat seseorang yang memukul orang lain karena ia kesal telah diperlakukan yang tidak senonoh. Itulah bukti bahwa peristiwa moral, mempunyai dorongan yang sangat kuat dalam peristiwa pemukulan tadi. Maka, bisa dibenarkan bahwa peristiwa pemukulan itu terjadi tidak secara mekanisme. Itulah mengapa dalam konteks yang lebih luas, ketika seseorang tidak taat kepada Allah, adalah sangat mungkin kalau Allah tidak ridha, Allah akan menurunkan azabnya atau memberikan tindakan balas terhadap sesuatu yang secara kasat mata tidak ada hubungannya. Maka kalau kita pahami, tentu ada hubungannya kesalahan moral dengan hukuman secara alam tadi.

Jadi pada dasarnya tabiat semesta bahkan manusia itu sendiri, mengandung ma’na yang meyimpulkannya dengan penciptaNya. Artinya, dibalik alam semesta dan diri manusia itu sendiri, terdapat unsur metafisik disitu, yakni Allah Swt. Oleh karena itu, al-Attas mengatakan, “maka alam seluruhnya harus dimuliakan dengan pandangan yang menghargainya, dan harus dihampiri secara yang tiada gegabah.” Sebagaimana al-Qur’an yang mesti didekati dengan penuh penghormatan, maka begitupun dengan alam semesta yang secara majaz disebut sebagai Kitab Agung ini. Bukan dituhankan, tapi dihormati dan dimuliakan. Maka ketika sudah “membaca” alam ini, maka ia mesti memahaminya sehingga bisa selaras dengan alam, supaya alam tidak hancur. Sementara setiap manusia hanya akan menjaga alam ini, jika mereka sadar akan keberadaan Allah dibalik alam semesta tersebut. Bukan justru menafikanNya, bahkan sampai menuhankan dirinya serta memanusiakan Tuhannya.

Lebih, jauh, al-Attas mengatakan, “Pengosongan alam dari sebarang ma’na ruhani, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kebudayaan Barat dan agama Kristian, telah menafikan hubungan ma’nawinya dengan Tuhan, dan telah menghapuskan sifatnya sebagai lambang kenyataanNya. Yang demikian telah juga menghilangkan penghargaan terhadap alam sehingga dilakukan terhadapnya tindakan sewenang-wenang, yang merosakkan kesaksamaan mesra yang sedia ada antara alam dan insan.” Inilah yang menurut al-Attas akan mendorong manusia ke arah sikap mempertuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan. Akibatnya, manusia yang dijadikan “pencipta baru” itu, dengan segala keterbatasannya, justru telah berlaku zalim kepada alam bahkan dirinya sendiri. (Al-Attas, “Risalah Untuk Kaum Muslimin.” 2001: 207)

Ketiga, Iradah. Terkadang kaum sekular yang benar-benar taat, sampai mendekati Ateis, sering menantang Tuhan. Ketidakpercayaan mereka akan azab Tuhannya, sering membuat mereka mempertanyakan hukuman Allah yang tidak langsung diberikan kepada pelaku kejahatan, bahkan dalam jangka waktu yang lama. Sifat Iradah adalah jawabannya. Sebab, pada hakikatnya terjadi atau tidak terjadinya segala sesuatu itu, adalah kehendak Allah (QS. 36: 82). Imam Bajuri mengatakan bahwa tidak mungkin Allah itu terpaksa atau Karahah. Sebab, jika begitu maka Allah lemah, dan lemah itu merupakan suatu hal yang mustahil bagi Tuhan. Lagipula Tuhan itu bukan pembantu yang bisa “disuruh-suruh” dan dipaksa-paksa.

Keempat, Baqa’. Sifat ini hanya sebagai penegas bagi mereka para sekularis sejati yang sampai “membunuh” Tuhan. Meskipun sebetulnya kalimat itu kurang efektif. Sebab, untuk membunuh Tuhan, Tuhannya mesti wujud terlebih dahulu. Sekalipun Tuhan itu sudah terbunuh, maka kita juga akan ikut tiada. Maka yang betul adalah pembunuh kesadaran akan Tuhan, sebagaimana yang dijelaskan Budi Hardiman dalam bukunya yang berjudul Humanisme dan Sesudahnya. Maka, melalui sifat itulah, Imam Bajuri menegaskan bahwa tidak mungkin Allah itu Faaniyan atau binasa (tidak kekal). Sebab jika begitu, maka Ia akan sama seperti makhluk, dan itu adalah satu yang mustahil. Artinya, Allah itu tidak berakhir dan akan selalui hidup. Lagipula bukankah di awal ditekankan bahwa Allah itu wajib ada (wujud)? (Untuk penjabaran seputar keempat sifat Allah tadi, lihat kitab matan “Ar-Risalah fi ‘Ilmi at-Tauhid” karya Imam Ibrahim al-Bajuri dalam kitab syarah “Tiijan ad-Durari” karya Syaikh Nawawi al-Bantani, 2015: 3-6)

Penutup

Maka, sudah semestinya ideologi sekularisme mulai ditinjau, dipelajari serta dipahami kembali. Sebab, pembelajaran kita terhadap suatu hal yang buruk bukan untuk jatuh ke dalamnya melainkan untuk menjauhinya bahkan membuat orang menjauhkannya. Disamping itu, ini merupakan tantangan akidah di zaman modern ini. Sudah semestinya kajian akidah seperti sifat dua puluh kembali digaungkan. Tentu tidak sebatas empat sifat tersebut, melainkan juga enam belas sifat lainnya. Dan yang terpenting, semua sifat itu mesti dikaitkan dengan tantangan akidah di zaman ini. Dengan begitu, ia akan tetap relevan dan tidak akan pernah usang. Kajian tersebut justru akan menjadi benteng awal yang sangat baik untuk menghadapi tantangan akidah modern ini. Maka jangan sampai sifat dua puluh ini ditinggalkan. Sudah semestinya ini diajarkan dan ditanamkan kepada murid sebagai bekal awal ia di kemudian hari. (Kampus At-Taqwa College Cilodong-Depok

Selasa, 14 April 2020)

Leave a Comment