Muhasabah Akhir Tahun: Merenungi Kembali Fitnah-Fitnah Dalam Surat Al-Kahfi

Penulis : Ust. Bana Fatahillah (Direktur Shoul Lin al-Islami, Pesantren at-Taqwa Depok)


Ada tiga poin penting sebagai pembuka tulisan ini.

Pertama, muhasabah atau yang dimaknai dengan merenungi/intropeksi diri tidak terikat hanya sebatas di penghujung tahun. Para ulama ahlil haq menganjurkan bermuhasabah di setiap penghujung hari. Hal tersebut bisa dilihat dari Firman Allah Swt yang tidak mengikat perintah bermuhasabah dengan waktu tertentu. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)… (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini tidak diikat dengan waktu tertentu. Artinya kapanpun muhasabah itu dilakukan maka sah-sah saja.

Kedua, para salafussolih melakukan muhasabah dengan berbagai cara. Ada yang sebatas merenungi dibarengi dengan penyesalaan, ada juga yang mencoba menyakiti dirinya sebagai hukuman dari kesalahan yang mereka lakukan. Umar bin Khatab Ra, misalnya, yang dalam Riwayat dikatakan jika malam hari tiba ia memukul kedua kakinya dengan sejenis mutiara sebagai muhasabah, “apa saja yang aku lakukan hari ini”. Ada juga yang menyalakan api di hadapannya dan menyodorkan tangannya ke api atas setiap kesalahannya. Pada intinya muhasabah harus dibarengi dengan penyesalan (al-Nadam) bagaimanapun teknisnya.

Ketiga, Kata fitnah disini bukan seperti apa yang dimaknai hari ini yaitu ‘tuduhan’. Melainkan bermakna cobaan atau ujian, sebagaimana dalam al-Quran:

واتقو فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب

“Hati-hatilah/peliharalah dirimu dari ujian yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksa-Nya (Qs. Al-Anfal [8]: 25).

واعلموا أنما أموالكم وأولادكم فتنة وأن الله عنده أجر عظيم

“Ketahuilah bahwa harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah/cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar. (Qs. Al-Anfal [8]: 28)

Dari poin pertama bisa diambil kesimpulan, tidak salah jika megadakan muhasabah di akhir tahun -namun alangkah baiknya jika dilakukannya setiap hari. Adapun dari poin kedua bisa ditarik kesimpulan, bahwa tidak perlu pusing dengan orang yang mengharamkan acara-acara muhasabah —atau apapun itu yang konteksnya baik— yang diselenggerakan di malam tahun baru. Sebab sekali lagi muhasabah bisa dilakukan dalam berbagai cara —selagi itu masih dalam naungan syariat. Justru acara semacam ini harus diapresiasi melihat mayoritas masyarakat kita yang menyambutnya dengan hal-hal non faedah.

Adapuun poin ketiga dapat disimpulkan bahwa ujian (fitnah) berbeda dengan siksaan (adzaab). Menurut Quraish Shihab, siksa selalu menyakitkan kearena ia merupakan dampak dari kedurhakaan pelakunya, sedang bala tidak selalu berbentuk bencana atau menyakitkan. Boleh jadi ujian/cobaan hadir dalam bentuk anugerah yang disenangi oleh manusia untuk ‘melihat’ bagaimana sikapnya menghadapi ujian itu seperti halnya anugerah harta dan anak-anak sebagaimana ayat di atas. Dalam konteks ini, fitnah yang disebutkan dalam surat al-Kahfi hadir kepada diri dalam bentuk yang disenangi; harta, ilmu, kekuasaan dan keimanan. Sekali lagi itu semua untuk melihat hambanya mana yang paling baik amalnya.

Fitnah-Fitnah dalam Surat Al-Kahfi

Surat yang rutin dibaca hari jum’at ini menyimpan banyak pelajaran. Diantaranya adalah sejumlah fitnah yang Allah Swt suguhkan bersamaan dengan kisah-kisah menarik, yaitu fitnah agama dalam kisah Ashabul Kahfi, fitnah harta dalam kisah dua orang pemilik kebun, fitnah Ilmu dalam kisah Nabi Musa dan Khidir, fitnah Jabatan dalam kisah Dzulqornain. Sebab, sebagaimana yang disampaikan Allah, disetiap kisah akan selalu ada pelajaran yang diambil.

1. Fitnah Agama dalam kisah Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah satu diantara tanda kekuasaan Allah Swt yang menakjubkan (lihat ayat 9). Sebagian orang mungkin akan berfikir bahwa hal menakjubkan itu adalah bagaimana Allah dapat menahan mereka tidur selama beratus tahun. mematikan lalu menghidupkannya Kembali. itu benar. Tidak bisa disalahkan. Sebab ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa yang membinasakan mereka ialah alam/waktu (wa maa yuhlikunaa illa al-Dahr).

Namun ada makna lain yang ingin Allah sampaikan dan ini lebih urgen, yaitu teguhnya keimanan para pemuda tersebut. Untuk menekankan bahwa ASPEK KEIMANAN adalah hal yang paling menakjubkan, kata Ibnu Asyur dalam Tafsirnya, Allah Swt langsung meletakan di awal kisah dengan perkataan “Ingatlah Ketika pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa “Ya Tuhan Kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami” (Ayat 10) (lihat At-Tahriir Wa At-Tanwiir) ini mengindikasikan bahwa keimanan inilah yang ingin ditampakan.

Hari ini mungkin sudah jarang ditemukan bentuk pemaksaan dalam keyakinan sebagaimana yang terjadi pada ashabul kahfi. Orang bisa bebas memilih keyakinannya. Namun tak sedikit dari mereka yang keimanannya tergoyahkan atau bahkan terjual lewat sejumlah pemikiran. Mereka tidak sadar bahwa imannya dan keyakinannya sedang digadaikan dan terbawa.sebut saja paham yang menuntut meyakini agama di luar Islam. Meski terlihat bagus, namun sejatinya ia menyerang iman. Inilah pentingnya peneguhan iman.

2. Fitnah Harta. Kisah Dua orang yang berdialog tentang Perkebunannya

Pelajaran dari kisah ini sejatinya sudah diketahui namun sering dilupakan. Bahwasanya apa yang kita miliki dari harta benda bukan milik kita dan tidak akan kekal selamanya. Orang kafir tersebut merasa kebun anggur yang dikelilingi oleh pohon kurma itu akan kekal bersamanya. (maa azunnu an tabiida hadzihi abadaa). Tidak hanya itu, ia meyakini bahwa andai kelak benar ada hari pembalasan (yaumul hisab) dia tentu akan menjadi sebaik baik yang dihisab -meskipun hakikatnya ia tidak percaya dengan kebangkitan. Allah pun murka dan menghancurkan semua perkebunannya tanpa sisa.

Maka sebagai orang berakal ikutilah yang menasehati untuk jangan kufur terhadap Allah. Apa yang kita miliki saat ini bukanlah milik kita, dan tidak akan kekal selamanya. Pilihannya hanya dua; antara kita yang meninggalkannya atau dia yang akan meninggalkan kita. itulah harta.

Hari ini mungkin sudah banyak yang menginsyafi hal berikut. Banyak orang yang sudah meyakini bahwasanya harta mereka bukanlah milik mereka. namun ada satu poin yang tidak disadari sehingga bisa menjerumuskannya seperti si pemilik kebun tersebut. Yaitu keyakinan bahwa harta yang ia peroleh murni -sekali lagi murni- hasil dari dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk campur tangan Tuhan. Disinilah letak kesalahannya. Dia memang mengupayakannya. Namun yang memberikan dan menganugrahkan adalah Allah Swt. inilah mengapa kawannya menasehati: “seandainya kamu memasuki kebunmu sembari berkata: apa yang dikehendaki Allah tidak ada kekuatan dan kemampuan kecuali dari Allah Swt.”

3. Fitnah Ilmu. Nabi Musa dan Nabi Khidir

Kisah ini sudah maklum dan populer. Untuk kisah detailnya bisa lihat di hadis Bukhari yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra. Singkatnya, Nabi Musa kala itu ditanya tentang siapa yang paling alim diantara kaumnya. Beliau pun menjawab saya. Ketika itulah Allah Swt mewahyukan kepadanya untuk datang ke seseorang yang lebih alim dari dirinya, yaitu Khidir As dengan petunjuk yang diberikan. Nabi Musa pun bergegas datang kepada Khidir dan mendapatkan pelajaran yang begitu banyak dari perjalanannya.

Ketahuilah, sifat mengetahui/ilmu dalam diri manusia hanyalah secuil dari apa ilmu yang ada di alam ini. Siapa manusia yang mampu mengetahui berbagai hal. Jangankan hal yang jauh, apa yang terjadi di balik tirai atau tembok rumah pun kita belum tentu tahu. Maka tidak pantas seseorang menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa ialah yang paling alim dan paling tau.

dan sama seperti di atas, bahwa ilmu yang dimiliki bukanlah murni dari miliknya. Andai Allah ingin mencabutnya, maka itu akan terjadi. Sebagaimana yang terjadi pada Bal’am bin Ba’urah sosok ulama pada masa Nabi Musa yang dicabut oleh Allah ilmunya dan dihukum karena merasa ilmunya adalah miliknya.

4. Fitnah Kedudukan/Jabatan. Kisah Zulqornain

Dzulqarnain adalah sosok raja yang diberikan oleh Allah kebijaksanaan. Al-Quran tidak memberikan secara detail tentang identitasnya. Ulama tafsir pun berbeda pendapat akan hal tersebut. Yang jelas al-Quran menggambarkan bahwa ia adalah sosok raja yang telah menjelajahi bagian timur dan barat bumi dan membuat keputusan dengan sangat bijak.

Sampai pada suatu masa ia menemui sebuah kaum yang berada di antara dua bukit (baina al-Saddain). Allah memberikan kekuasaan kepada Dzulqarnain untuk membuatkan tembok penghalang menggunakan teknologi dan pengetahuan. Tembok penghalang tersebut terbuat dari besi yang dipanaskan dengan api yang mendidih. Dengan pengetahuan tersebut tembok yang sudah jadi sangatlah kuat sehingga Ya’juj dan Ma’juj tidak bisa keluar ataupun melubanginya sampai hari kiamat nanti dan bumi menjadi debu. Mereka tidak bisa menuju negeri lain, karena tembok tersebut adalah jalan satu-satunya.

Meskipun Dzulqarnain telah berhasil membuat proyek besar tersebut, tidak lantas kemudian hatinya menjadi congkak dan sombong karena ilmu dan kekuasaan. Justru ia merasa rendah hati karena ia tidak mau upah meski ia ditawari imbalan yang mahal. Ia merasa bahwa segala ilmu, kekuatan, dan kekuasaan yang ia miliki hanya milik Allah semata, dan akan hancur atas kehendak Allah. Hal ini seperti firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 98-101 bahwa semua kekuatan yang di bumi akan musnah pada hari di mana sangkakala ditiupkan.

Hari ini orang silau dengan jabatan dan kekuasaan. Semua orang menghalalkan cara untuk memperoleh jabatan. Padahal kekuasaan adalah sebuah pertanggunghawaban yang amat besar. Bahkan tidak sedikit yang belum memenuhi kriteria dalam pemimpin khususnya dalam aspek agama. Padahal Umar bin Khattab pernah berpesan tafaqqahuu qabla an tasuuduu (berilmulah dahulu sebelum kalian memimpin). Maka pengkisahan Dzulqarnain adalah sosok yang Allah hadirkan dalam Al-Quran sebagai perenungan bagaimana jabatan adalah salah satu cobaan yang bisa menjerumuskan manusia kepada siksaan jika ia tidak mengembannya dengan baik. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Foto: Alexander Andrews/Unsplash/Geulgram