Muhammadiyah Dalam Kancah Kebudayaan Jawa

Penulis : Fawwaz Ziyad el-Hakim (Santri PRISTAC-Pesantren at-Taqwa Depok, 15 tahun)


Jawa adalah satu suku-bangsa dari berbagai macam suku-bangsa yang ada di Indonesia. Sama seperti suku-bangsa lainnya, Jawa juga memiliki berbagai macam keberagaman di dalamnya. Hal itu ditunjukkan dalam bahasa, adat-tradisi, alam, dan berbagai macam hal lainnya. Tetapi tidak hanya itu yang bisa dilihat dari ‘Jawa’. Banyak hal masih tersimpan dalam seluk-beluk ‘Jawa’ itu sendiri.

Sejarah adalah salah satunya. Yakni, kejadian-kejadian penting yang membuat ‘Jawa’ menjadi sesuatu yang sangat berkenaan dengan Islam, dan berbagai macam hal lainnya yang tidak nampak dari permukaan luar ‘Jawa’. Sejarah Jawa dan Islam tetap berkelanjutan sampai abad ke-20, khususnya dalam sejarah Muhammadiyah. Buku Muhammadiyah Jawa karya Ahmad Najib Burhani memberi kita banyak maklumat dalam menjelaskan sekelompok golongan pergerakan yang merupakan orang Jawa sekaligus orang Muslim.

Jawa dan Islam

Pada dasarnya, Islam dan Jawa adalah dua kata yang berbeda, secara harafiah maupun istilah. Jawa dan Islam adalah dua unsur yang berbeda. Akan tetapi karena kedua nama ini sering didengar bersamaan, akhirnya Jawa dan Islam menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seakan-akan dalam kejawaan telah menyatu ke-Islam-an. Jika ada orang Jawa, maka dia beragama Islam, dan begitu juga sebaliknya, Terdapat pembahasan yang cukup menarik disini.

Hubungan antara Islam dan Jawa memang bisa dibilang sangat erat, bahkan bisa dibilang tidak terpisahkan. Akan tetapi pernah pada suatu waktu hubungan antara keduanya mulai terjadi kerenggangan. Hal ini terjadi pada tahun 1828 akhir, pada waktu itu yang bertepatan dengan terjadinya Perang Jawa. Dikatakan di dalam buku Muhammadiyah Jawa ini bahwa, pada setelah terjadinya Perang Jawa itu, Belanda mengira bahwa terjadinya perlawanan, pemberontakan-pemberontakan yang ada disebabkan karena hubungan antara Jawa dan Islam yang sangat dekat.

Maka dari itu, menurut Belanda, penyelesaian masalah ini adalah dengan memisahkan keduanya. Belanda menggunakan berbagai strategi kebudayaan dan sosiologis untuk melakukannya. Di sinilah mulai terjadinya kerenggangan hubungan antara Jawa dan Islam. Pada awalnya mungkin tidak terlalu terlihat di mana letak kerenggangan hubungan antara keduanya, akan tetapi sebenarnya telah nampak dalam suatu bentuk yang lain, yang tidak jauh dari kata ‘kategorisasi’.

Bagi pengamat sejarah, terutama sejarah Indonesia istilah abangan dan santri bukan lagi asing di telinga mereka. Begitu juga keduanya yang sering dikategorikan sebagai dua hal yang berlawanan. Munculnya kedua istilah ini yang akhirnya menjadi berlawanan adalah suatu kebijakan baru yang dibuat oleh Pemerintah Kolonial. Beberapa hal yang telah disebutkan tadi merupakan ringkasan yang terdapat dari paradigma lama orientalis yang membantu melestarikan kolonialisme. Paradigma ini sengaja dibuat-buat oleh para orientalis untuk kepentingan misi mereka.

Adapun pembahasan satu lagi, yaitu paradigma yang berpusat pada Islam. Paradigma ini muncul karena menurut Mark R Woodward, munculnya sarjana-sarjana pribumi telah membuat para sarjana terus beroperasi di dalam batasan-batasan paradigma lawas orientalis. Hal inilah yang membuat pandangan orang-orang sekitar pada zamannya terhadap Jawa dan Islam mulai berubah. Juga menurut Wookward bahwa, sistem kepercayaan yang dijunjung tinggi oleh orang-orang Jawa merupakan Islam, karena Islam inilah yang nantinya mengarahkan arah budaya dan peradaban Jawa.

Pada awalnya Islam berakulturasi dan beradaptasi dengan budaya dan tradisi pra-Islam. Dan sebenarnya, kerenggangan antara Islam dan Jawa itu tidak ada, cara berpikir seperti ini hanyalah dibuat-buat. Padahal orang Jawa sendiri mengakui bahwa Islam adalah agama mereka. Wong Jawa juga tidak ingin orang-orang yang berasal dari Jawa ini mengikuti ajaran agama lain, karena orang Jawa sendiri mengakui kehadiran Islam, dan orang Islam juga mengakui kejawaan itu sendiri. Organisasi Muhammadiyah sendiri adalah organisasi yang berlatar-belakang budaya Jawa dan berlandaskan syariat Islam.

Jadi, identitas sesuatu akan selalu berubah kapanpun dan dimanapun, begitu juga halnya dengan identitas Budaya Jawa. Budaya Jawa akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak membantu dan meresahkan jika dilihat dari sudut pandang Belanda sesaat setelah selesainya Perang Jawa, dan Budaya Jawa bisa dianggap sebagai sesuatu yang berguna dan membantu ketika kita melihatnya dari sudut pandang Islam, dimana Budaya Jawa disini bisa digunakan dan diislamisasi sehingga membantu penyebaran dakwah Islam dan pengembangan budaya Jawa sendiri.

Muhammadiyah

Mungkin sudah banyak orang yang kenal dengan nama ini. Organisasi yang memiliki hubungan erat dengan Jawa dan Islam. Organisasi yang berdiri dengan dorongan dan segenap dukungan dari pengaruh berdirinya organisasi Boedi Utomo. Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman, Yogyakarta. Namun, apa hubungannya antara Muhammadiyah, Islam, dan Jawa? Apakah Muhammadiyah memiliki pengaruh yang membuat Jawa kembali memiliki identitas aslinya dengan Islam?

Muhammadiyah di sini bisa dibilang memberi pengaruh yang cukup besar bagi Jawa dan umat Islam. Sebenarnya, latar-belakang KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah ini untuk gerakan pembaharuan keagamaan, kekuatan politik (walaupun tidak terlalu menonjol dan dalam tataran arus bawah), dukungan terhadap budaya Jawa, dan sebagai bentuk respons kepada komunisme dan Kristen. Dari sini sudah sangat terlihat bahwa, Ahmad Dahlan mengetahui relasi sosial antara Jawa, Komunisme, Kristen, dan Islam. Oleh sebab itulah Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini dengan tujuan yang cukup unik pada zamannya.

Tujuan diberdirikannya organisasi ini antara lain juga untuk dua hal yang utama. Pertama untuk menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, yang kedua adalah memajukan ajaran agama terhadap anggota organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Muhammad yang berarti Nabi Muhammad SAW, dan kata Iyah disini berarti pengikut, yang jika digabungkan bisa berarti Para pengikut Nabi Muhammad. Bukan berarti jika yang tidak masuk ke dalam organisasi ini bukan pengikut Nabi Muhammad. Kemudian bagaimana sikap Muhammadiyah ini terhadap budaya Jawa ini? 

Seperti yang sudah disebutkan di awal, pada masa awal saat didirikan, Muhammadiyah berlatar-belakang dari memainkan empat hal utama, Muhammadiyah didirikan sebagai gerakan pembaharuan keagamaan, sebagai kekuatan politik, pendukung budaya Jawa, dan respons terhadap Kristen dan Komunisme. Adapun usaha yang dilakukan dalam mengupayakan agar hal-hal tersebut terjadi yaitu dengan cara antara lain; mendirikan sekolah yang mana agama dan pelajaran umum diajarkan secara merata, menyelenggarakan pengajian Islam di sekolah, swasta, maupun di luar sekolah, mendirikan langgar dan masjid, dan membantu menerbitkan koran, majalah, buku yang mengandung konten Islami.

Dalam mendukung budaya Jawa, Muhammadiyah memperlihatkan gerakannya yang sangat aktif dalam hal ini. Seperti melaksanakan Garebek (Upacara peringatan) secara rutin, karena dalam tradisi Garebek ini Muhammadiyah menganggap bahwa praktik Garebek ini bisa dijadikan sebagai sarana dakwah. Atau contoh lain seperti penerimaan Muhammadiyah terhadap budaya Jawa lainnya, seperti wayang misalnya. Anggota-anggota Muhammadiyah awal di Yogyakarta tentu berlatar-belakang budaya Jawa. Bahkan nama-namanya pun lebih terasa njawani daripada kemarab.

Dalam bahasa, Muhammadiyah juga mendukung dan tidak keberatan atas keberadaannya bahasa Jawa. Ahmad Dahlan sendiri juga memperbolehkan bagi orang-orang Jawa yang tidak bisa berdoa dalam bahasa Arab, boleh untuk menggunakan bahasa Jawa. Atau ketika menjadi Khatib Jum’at, Ahmad Dahlan juga memperbolehkan sang khatib untuk menggunakan bahasa Jawa, karena dikhawatirkan sebagian penduduk Jawa tidak dapat mengerti bahasa lain (Arab misalnya) ketika sang Khatib menggunakan bahasa lain ketika berkhutbah.

Memang tidak semua yang berkaitan dengan Jawa diterima dengan mudahnya oleh Muhammadiyah. Misalnya  yang berkaitan dengan TBC, Takhayul, Bid’ah, Churafat. Sebagian penduduk Jawa masih ada yang mempercayai animisme dan dinamisme. Oleh karenanya, Muhammadiyah tidak mendukung hal ini. Adapun bentuk ketidaksenangan Muhammadiyah terhadap masalah ini dengan memajukan dan menekankan pendidikan Islami pada sekolah-sekolah yang didirikannya.

Muhammadiyah menjalankan dakwah akomodatif, gradual (perlahan-lahan), sambil memperbaiki kondisi keagamaan masyarakat. Dengan cara inilah Islam, dan Muhammadiyah di abad ke-20, diterima oleh orang Jawa. Secara perlahan, hubungan ke-Islam-an dan ke-Jawa-an tetap terpelihara dan terhindar dari perpecahan, baik secara konseptual maupun sosiologis. Dalam ajaran Islam hal ini tidak masalah. Bahkan tujuan hidup Islam berdasar pada menyejahterahkan hal-hal yang bersifat dunia ini.

Kesimpulan

Jawa, Islam, dan Muhammadiyah memiliki keterkaitan yang cukup menarik. Muhammadiyah adalah salah satu pendukung ke-Jawa-an. Budaya Jawa dapat menjadi budaya yang disegani banyak orang maupun umat Islam sendiri, sebab, adanya pengembangan budaya dari kehadiran Islam di Jawa. Muhammadiyah menjadi organisasi yang kehadirannya tersebar luas, terutama, di Jawa, disebabkan adanya latar-belakang sejarah hubungan Jawa dan Islam.

Budaya Jawa memang tidak semuanya dapat diterima, tapi dengan kehadiran Islam, budaya Jawa nampak lebih baik dipandangnya. Islam memang tidak setuju apabila ada sesuatu yang bertentangan dengan syariatnya, akan tetapi Islam tidak menentangnya secara kasar. Islam akan membenarkan pemikiran dan cara pandang terhadap hal yang bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri dengan kebijaksanaan dan tujuan ajarannya dalam memuliakan manusia.

/*Resensi buku ini dipresentasikan dalam kuliah Book Discuss yang diampu oleh Ustadz Ahda Abid al-Ghiffari.*/

*
*
*

(Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Jawa, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2016, xxii + 186 halaman)