Literasi Islam: Cintai Buku, Berlatih Menulis, Dan Bangunlah Bangsa Indonesia! -Liputan IBF Goes to Pesantren at-Taqwa Depok 2022-

Penulis : Alfidhiya Zitazkiya Fika (Santriwati PRISTAC – Pesantren at-Taqwa Depok, 15 tahun)


Sabtu, 28 Mei 2022, pagi itu hujan lebih dulu menyapa masyarakat Pesantren at-Taqwa Depok. Di pagi yang dingin itu, Pesantren at-Taqwa Depok dikunjungi perwakilan Islamic Book Fair (IBF) yang membawa wajah baru: Go to Pesantren!

Tak tanggung-tanggung, dari IBF tersebut, Hikmat Kurnia yang dikenal sebagai pengusaha, pegiat literasi, dan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI, datang membersamai para Santri at-Taqwa. Dengan wajah baru yang berlatarkan pesantren itu, pihak IBF memutuskan untuk mengunjungi Pesantren At-Taqwa sebagai sasaran pengenalan sekaligus kunjungan pertamanya.

Ustadz Abdul Hakim selaku moderator, juga beberapa jajaran guru dari Pesantren at-Taqwa Depok seperti Ustadz Ardiansyah, Ustadz Adian Husaini, dan Ustadz Suidat telah hadir menemani Ustadz Hikmat Kurnia. Di tengah suasana guyuran hujan gerimis, acara pun dimulai dengan pembukaan pada pukul 07.00, setelah mengucap lafaz basmallah dan dilanjut dengan pembukaan dari beberapa tokoh yang hadir di depan kami semua.

Ustadz Adian memberikan sambutan pertama. Ia menyampaikan nasihat dan pandangannya mengenai IBF saat ini. Menurutnya, “Islamic Book Fair yang berada saat ini bukan hanya sekedar pameran buku semata. Melainkan satu upaya yang membangun budaya literasi dan kecintaan pada buku.

"Meskipun saat ini umat Islam mengalami era disrupsi, tetap saja buku menjadi barang yang sanga penting. Sebab di dalam buku terdapat nilai yang unik ketika membacanya. Yakni, terdapat dialog antara buku dengan diri ketika berfikir makna dari suatu buku.” Ustadz Adian menutup sambutannya dengan menyebutkan bahwa mecintai buku dan membangun ukhuwah adalah inti dari adanya Islamic Book Fair.

Adapun sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Ardi selaku Mudir Pesantren at-Taqwa Depok. Ia menyampaikan bahwa nama Pesantren at-Taqwa bukanlah semata pesantren yang mengajarkan ulumuddin. Pesantren at-Taqwa merupakan pusat studi yang menumbuhkan dalam diri setiap santrinya adab dan tradisi literasi yang mengakar kuat.

“Dengan literasi, bangsa dapat menciptakan karya yang baik, bermanfaat dan membuahkan pahala jariyah di khalayak,” lanjutnya.

Setelah sambutan yang cukup singkat dan mengesankan, acara berlanjut pada kegiatan inti, yakni seminar dari narasumber dengan judul “Literasi Islam: Menumbuhkan Optimisme Bangsa” oleh Ustadz Hikmat Kurnia. Ustadz Abdul Hakim memperkenalkan secara singkat Ustadz Hikmat Kurnia, yang merupakan pengusaha sukses, sekaligus menjelaskan bahwa IBF tahun ini merupakan momentum untuk bangkit di bidang literasi dan perbukuan Islam.

Santri yang mengikuti acara yang tergolong “pagi sekali” itu ditemani dengan hidangan berupa roti pisang keju dan susu kota oleh-oleh dari Ustadz Hikmat Kurnia. Demikian yang juga disampaikan oleh Ustadz Abdul Hakim. Sembari santri menikmati roti dan susu, seminar diawali dengan cerita hidup Ustadz Hikmat Kurnia. Ia mengisahkan perjuangan semasa remajanya dalam proses menempun perjalanan menuju dirinya yang kini dapat membangun IBF dan dikenal banyak orang.

Ia menceritakan, sejak kecil dirinya sudah menyukai membaca buku. Terlewat dariapa pembahasan dalam buku dan apakah dirinya mengerti atau tidak, ia hanya menyukai membaca dan membaca. Hingga pada suatu hari, ia mengalami episode sulit dalam hidupnya semasa kuliah, yakni kekurangan biaya.

Kemudian dengan menggunakan bekal membaca buku, ia mulai menulis artikel dan resensi buku dan dikirimkannya kepada penerbit pada masa itu. Dengan begitu, ia dapat memperoleh tambahan sumber daya yang cukup membiayai hidupnya. Tidak hanya mendapatkan honor, ia juga mendapatkan buku dari penerbit untuk diresensi dan mampu mengoleksi hampir 2000 buku.

Pada episode ini, Ustadz Hikmat mengajarkan kepada kami bahwa memang dengan membaca, urusan dalam kehidupan kita sehari hari dapat diatasi dengan mudah. Buku menambah ilmu, juga menambah sumber penghidupan. Menurutnya; “Dengan literasi, kita mampu mendapatkan keahlian, jaringan, dan juga pendapatan.”

Setelah kuliah rampung, Ustadz Hkmat Kurnia ingin melamar kerja, dengan bermodalkan basmallah dan kumpulan artikel yang telah ia tulis semasa kuliahnya. Qodarullah, Ustadz Hikmat diterima kerja dengan tanpa syarat. Ia bekerja di suatu tempat tersebut selama sembilan tahun lamanya. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk keluar dan mendirikan perusahaan sendiri.

Memang pada awalnya karyawan yang hanyalah office boy dan dirinya sendiri. Namun dengan tekad yang kuat, mulai dari pertama kali mendirikan hingga hari ini, ia sudah memiliki 1500 karyawan dan nama serta perusahaannya sudah dikenal di banyak tempat. Ia menasehatkan kepada para santri: “Nilai seseorang tidak diukur dari sejauh mana pikirannya berjalan, melainkan diukur melalui sejauh mana yang dilakukan oleh orang tersebut.” Secara tersirat, ia mengajarkan kepada kami semua bahwa memang orang hebat lahir dari usaha yang dijalankannya, bukan sekedar wacana yang dibuatnya.

Menjeaskan lebih lanjut mengenai hal ini, ia mengulang kembali sejarah Indonesia dengan mengingatkan kami bahwa merdekanya Indonesia dikarenakan adanya usaha dan tekad yang telah dijalankan para tokoh pendiri Indonesia, tanpa pandang apakah berhasil atau tidaknya. Bahkan, dengan hanya bermodalkan 100 sarjana Indonesia tetap bisa merdeka dan berdiri hingga saat ini.

Hal tersebut dikatakan olehnya sebab adanya jiwa unggul yang tertanam kuat dalam diri mereka. Menurutnya:

“Ciri seseorang yang unggul adalah tiga perkara. Satu, adalah karakter yang merupakan basis hidup dan yang menentukan ke mana nasib akan megarahkannya. Kedua, adalah keterampilan sebagai modal hidup. Sebab manusia tidak dapat hidup jika modalnya saja tidak dimilikinya. Ketiga, literasi sebagai pegangan adaptasi dari berubahnya zaman yang terus mengikuti perkembangan barat modern yang tak dapat dibendung. Ketiga asas ini adalah satu kesatuan. Jika salah satunya tidak ada, amka jangan harap gelar unggul ada pada bangsa.”

Kemudian, Ustadz Hikmat Kurnia menutup seminarnya dengan mengatakan bahwa analisis dan keyakinannya mengenai menyebarluasnya agama Islam ke seluruh dunia, sebab kini tidak sedikit para muallaf dari negeri Eropa yang terus bermuncullan keberadannya. Oleh itu ia mengatakan:

“Generasi muda saat ini mestilah dibangun jiwa literasi sejak kecil. Sebab jatuh bangunnya peradaban Islam ada pada generasi muda Islam yang memegang predikat unggul.”

Kemudian, “hidup kita ini sebagai manusia unggul tidaklah patut sederhana. Namun yang patut disederhanakan adalah gaya hidupnya saja,” lanjutnya. Dengan begitu, kami semua diajarkan untuk menjadi manusia yang unggul dan berkehidupan tinggi dengan menjaga gaya hidup tetap sederhana dan bersahabat.

Setelah menutup seminarnya, Ustadz Hakim selaku moderator acara pada pagi itu memberikan kesempatan kepada empat santri putera dan puteri untuk mengajukan pertanyaannya kepada narasumber. Berbagai macam pertanyaan diajukan oleh santri at-Taqwa Depok, mulai dari jenjang Shoul-lin, PRISTAC, hingga ATCO. Kemudian dengan jawaban dan bahasa yang mudah dipahami, Ustadz Hikmat menguraikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ustadz Hikmat juga mendoakan para santri agar menjadi manusa unggul dan memberikan trik agar dapat mencintai budaya literasi dan menulis dengan baik. Ustadz Hikmat melanjutkan:

“Untuk dapat menumbuhkan cinta pada literasi, kita harus terlebih dahulu mencintai membaca buku. Kemudian untuk dapat menulis, terlebih dahulu kita meminta pertolongan Allah SWT, kemudian banyak berlatih, dan buatlah kolaborasi. Juga, tidak kita lupakan juga bekal untuk menulis adalah kreativitas dan pengetahuan. Sebab tanpanya kita tidak akan mampu untuk menciptakan karya yang memadai.”

Setelah selesai menjawab pertanyaan, Ustadz Hikmat Kurnia menyemangati kami semua: “Perubahan akan terjadi bila kita melakukan perubahan pada diri sendiri.”

Acara ditutup pada pukul 09.10. Sebelumnya seluruh santri at-Taqwa dan beberapa jajaran guru berfoto bersama. Santri yang mengajukan pertanyaan, beruntung mendapat hadiah buku, secara langsung oleh Ustadz Hikmat Kurnia. (Ed: Ahd.)