Santri PRISTAC Presentasikan Makalah-Makalah Bertema Sejarah, Pemikiran, dan Peradaban Islam

Senin, 22 Februari 2021, sebanyak 22 Santri PRISTAC angkatan 3 selesai mempresentasikan makalah tugas akhir mereka. Makalah-makalah tersebut disajikan di hadapan Dewan Pembimbing dan Penguji dari Guru Ponpes at-Taqwa Depok. Presentasi dilakukan dalam tiga sesi dari hari Ahad, 21 Februari 2021.

Makalah tersebut ditulis dalam waktu kurang lebih tiga-empat bulan. Sejak November 2020, Santri PRISTAC telah memilih dan menyiapkan tema dan judul. Begitu mendapat tema dan judul yang akan ditulis, Santri kemudian menghadap para guru pembimbing yang berkompeten dalam bidang-bidang keilmuan yang sesuai.

Meskipun Santri PRISTAC setingkat SMA, dan berusia rata-rata 16-17, mereka mendapatkan guru-guru setingkat doktor dengan kompetensi keilmuan yang mumpuni. Tema dan judul yang diambil-pun adalah tema-tema serius dan berbobot yang membutuhkan fokus bahasan dan penulisan yang tidak sembarang.

Adapun guru-guru pembimbing tersebut di antaranya adalah: Dr. Muhammad Ardiansyah, Dr. Suidat, Ustadz Nuim Hidayat, Ustadzah Dina Farhana, Ustadz Ahda Abid al-Ghiffari, dan Ustadz Muhammad Kholid.

Terhimpun dalam karya penulisan tersebut, terdapat beberapa klasifikasi tema yang ditulis dari para Santri, seperti pemikiran, pendidikan, sejarah, hingga tantangan pemikiran umat Islam. Berikut karya-karya Santri PRISTAC:

Pendidikan dan Dakwah
-Raihan Dzikri Hakim (Tafsir Ayat Pendidikan Syaikh Nawawi)
-Muhammad Nabil Abdurrahman (Pendidikan Integral Mohammad Natsir)
-Nuswatul Adibah (Pendidikan Indonesia Era Revolusi Industri 4.0 dan Pandangan Islam)
-Muhammad Abdurrahman Assajad (Keteladanan Dakwah Hamka)
-Nailufar A. Albary (Peran Persis dalam Pendidikan)
-Athifa Fauziah Rahmah (Novel Dilan dalam Timbangan Adab)
-Umar ar-Rantisi (Pemikiran Pendidikan Ibn Khaldun)
-Faisal Nabil Purnomo (Model Pendidikan Muhammad al-Fatih)

Sejarah
-Vaisal Rahmat Hidayat (Islamisasi dan Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia)
–Shofiyah Hafizhah Irvan (Orientalis dan Sejarah Islam)
-Yasmin Khoirunnisa (Rohana Kudus dan Perjuangannya)
-Alima Pia Rasyida (Kiprah Pesantren dalam Perubahan Sosio-Politik)

Pemikiran
-Ali Sina Albasyiri (Wacana Islam Liberal di Medsos)
-Muhamad Irfan Hakim (Konsep Agama Menurut Rasjidi)
-Aditama Prima Mahadika (Pemikiran Kasman Singodimedjo)
Peradaban
-Faiz Abdurrahman (Keteladanan Kepemimpinan Umar bin Khattab)
-Aufa Azizah (Peran Harun al-Rasyid dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan)
-Umar Thoriq Ramadhan (Pengaruh Zionisme di Kekhalifahan Utsmani)

Feminisme
-Syuhda Fakhrun Nisa (Kiprah Perempuan dalam Peradaban Islam)
-Azzahra Azka Salsabila (Keluarga dalam Perspektif Feminisme dan Islam)
-Habiba Zahra (LGBT dalam Perspektif Feminisme dan Islam)
-Ghaitsa Sahira Putri (Feminisme: Dari Problem Kristen Barat hingga Dekonstruksi Syari’ah)

Ikut menguji presentasi makalah Santri, pendiri Ponpes at-Taqwa Depok, Dr. Adian Husaini memberikan apresiasi mendalam terhadap karya para Santri ini. Ia juga sekaligus kembali menegaskan pandangannya mengenai Model Pendidikan Ideal Pelajar SMA. Dalam laman status facebooknya, seperti yang ditulis tanggal 21 Februari 2021, Dr. Adian Husaini menulis:

“Mereka [para Santri PRISTAC] mempresentasikan makalah yang cukup berbobot dan serius topiknya. Para santri yang rata-rata berumur 16 tahun itu sudah dilatih untuk berpikir memahami masalah umat dan mengajukan solusinya.”

Di PRISTAC (Pesantren Pemikiran dan Peradaban Islam setingkat SMA), Dr. Adian telah merumuskan satu pandangan penting. Yakni, pelajar SMA itu sudah dewasa, dan bukan (atau jangan dipaksa) menjadi anak-anak.

“Jadi, mereka banyak dilatih menjawab soal-soal kehidupan, bukan hanya dilatih menjawab soal-soal ujian,” demikian tulisnya.

Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok dan Mudir PRISTAC, Dr. Muhammad Ardiansyah, pada akhir sesi, memberi pesan penting kepada para Santri. Dr. Ardiansyah mencatat, ini merupakan pencapaian baru di PRISTAC. Sebab, pada angkatan ketiga ini, semua Santri PRISTAC, yang berjumlah 22 Santri, menulis makalah.

“Untuk tingkat SMA, makalah ini luar biasa. Kami [para guru] pun mendapat banyak manfaat.”

Adapun pesan-pesan Dr. Ardiansyah:

“Pertama, terus belajar, membaca dan menulis. Hari ini terbukti, bahwa semua bisa. Kesulitan yang ada bisa dihadapi dan selesai. Jangan sampai ini makalah ini menjadi yang terakhir, setelah itu tidak menulis lagi. Kedua, jangan jadi patah semangat karena ada kritik atau masukan dari guru-guru. Jadikan itu sebagai motivasi untuk menulis karya yang lebih baik lagi. Ketiga, jangan lupa diri, jangan tinggi hati, setelah bisa menulis makalah. Ingat proses penulisan. Di balik terbitnya makalah ini, ada bimbingan guru yang menjadikan makalah ini selesai. Keempat, perbaiki makalah dengan saran-saran yang diberikan pembimbing dan penguji. Kemudian, presentasi berikutnya harus lebih baik lagi.”

Tidak hanya mendapat sambutan dan apresiasi dari guru-guru Ponpes at-Taqwa saja, pencapaian Santri PRISTAC juga disambut oleh tokoh lain. Salah satunya adalah seorang dosen intelektual muda dan pengasuh Seed Institute, Andika Saputra. Penulis buku Arsitektur Masjid: Dimensi Idealitas dan Realitas itu, memberikan tanggapan atas terselenggaranya presentasi makalah Santri PRISTAC. Dalam status WhatsAppnya ia menulis:

“Santri PRISTAC didikan Ustadz Dr. Adian Husaini, di usia SMA sudah terbiasa melahap bacaan serius, diskusi dengan para guru dan tokoh, menulis makalah dan buku ratusan halaman, serta menjadi pemakalah di seminar nasional dan internasional.”

Menurutnya, judul makalah para Santri punya bobot yang hampir setara dengan penelitian skripsi Strata 1 di Perguruan Tinggi, yang dilakukan dengan metode penelitian kajian pustaka. Metode ini menurutnya tidak mudah karena:

“… peneliti harus menguasai referensi utama untuk topik dan isu yang ditelitinya, selain jenis penelitian ini memiliki tingkat jenuh yang tinggi karena terus-menerus harus berhadapan dengan teks,” demikian tulisnya. (Ahd.) []

Leave a Comment