DASAR PEMIKIRAN

“Masa  SMA”  biasanya  berkisar  usia  15‑18  tahun.  Di  Indonesia, program pendidikan masa SMA secara umum dibagi  menjadi  dua.  Pertama,  jalur  SMU  yang  menyiapkan  siswanya  untuk  memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Kedua, jalur SMK,  yang menyiapkan siswanya untuk siap terjun ke dunia kerja.

Di bangku SMA pada umumnya, biasanya para siswa  tidak  diberikan  kajian‑kajian  pemikiran  yang  serius  tentang  peradaban,  tentang  sejarah,  tentang  pemikiran  Islam,  tentang  politik,  ekonomi,  sosial  budaya,  dan  sebagainya.  Sebab,  para  siswa  SMA  dianggap  masih  “anak‑anak”.  Mereka  dianggap  belum dewasa. Dalam istilah lain, para siswa SMA dimasukkan  ke dalam ketegori “Remaja”.

Lazimnya,  dalam  psikologi,  remaja  (adolensence)  dianggap  periode  peralihan  anak  menuju  dewasa.  Ia  tidak  mempunyai tempat yang jelas. Anak bukan, dewasa belum. Masa  remaja berkisar pada usia 12‑21 tahun bagi wanita dan 13‑22 pria.  (h p://belajarpsikologi.com/pengertian‑remaja/).    Konon  pula,  menurut pakar Psikologi Perkembangan seperti Hurlock (1990),  dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira‑kira umur  40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda  (young) ialah mereka yang berusia 20‑40 tahun. Menurut seorang  ahli  psikologi  perkembangan,  Santrock  (1999),  orang  dewasa  muda  termasuk  masa  transisi,  baik  transisi  secara  fisik  (physically  trantition)  transisi  secara  intelektual  (cognitive  trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

Perkembangan  sosial  masa  dewasa  awal  adalah  puncak  dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah  masa  beralihnya  pandangan  egosentris  menjadi  sikap  yang  empati.  Pada  masa  ini,  penentuan  relasi  sangat  memegang  peranan  penting.”

(http://www.psychoshare.com/file‑119/psikologi‑dewasa/perkembangan‑dewasa‑awal.html)

Tampak,  bahwa  konsep  remaja  itu  didasarkan  pada  penelitian  empiris  yang  sangat  tergantung  kepada  objek  penelitian.  Padahal,  kondisi  objek  penelitian  itu  sendiri,  ditentukan oleh proses pendidikan yang diterimanya. Jika objek  yang diteliti adalah komunitas orang bingung (golongan bingung/ golbin), maka kesimpulan yang diraih pun kesimpulan bingung.  Coba, yang diteliti adalah anak‑anak muda yang sudah mantap  iman dan pemikirannya, tentu definisi remaja pun akan berbeda.

Sudah Dewasa

Pengkategorian “masa SMA” sebagai masa “remaja” dan  “belum  dewasa”  kini  mulai  dipertanyakan.    Sebab,  begitu  memasuki umur  15 tahun, manusia sudah tergolong dewasa.   Adriano Rusfi adalah salah satu psikolog yang dikenal gencar  mengkritisi  kategorisasi  remaja  bagi  usia  SMP‑SMA.  Menurutnya, literatur psikologi abad ke‑19 tak mengenal masa  remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad  ke‑20 dimana telah lahir generasi dewasa fisik (baligh) namun tak  dewasa mental (aqil).

Dengan  “legalitas  remaja”,  seolah‑olah  anak  dibiarkan  berlama‑lama menjadi anak‑anak. Maka, lahirlah generasi yang  matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal. Karena masih  remaja, dan dianggap belum dewasa, maka usia remaja dianggap  belum  matang,  dan  masih  belum  bisa  menentukan  sikap  hidupnya.

Pandangan Adriano Rusfi ini menarik. Sebab, memang  tidak jarang muncul kerancuan. Manusia berusia 17 tahun, sudah  mampu memperkosa dan membunuh, tetapi dikategorikan status  hukumnya  sebagai  “anak‑anak”.    Dalam  Islam,  jika  seorang  sudah  memasuki  tahap  ‘baligh’,  maka  ia  sesungguhnya  telah  dewasa.  Ketika  itulah  seharusnya  ia  dididik  sebagai  manusia dewasa. Tentu saja sesuai dengan kondisi usianya.

Dalam UU Perkawinan No 1/1974, batas minimal usia  menikah  bagi  wanita  adalah  16  tahun.  Batas  umur  itu mengindikasikan,  sepatutnya  seorang  wanita  telah  disiapkan  jiwa  raganya  untuk  menjadi  dewasa.  Pendidikan harus  mendewasakan dan memandirikan; bukan justru memaksa anak  berlama‑lama menjadi anak‑anak.

Dalam  sebuah  hadits  dari  Abdullah  bin  Umar  r.a.  disebutkan,  bahwa  Rasulullah  saw  memanggil  Abdullah  bin  Umar untuk hadir ke hadapan beliau menjelang Perang Uhud.  Ketika  itu  usia  Abdullah  14  tahun.  Dan  Rasul  tidak  mengijinkannya  ikut  berperang.  Kemudian  Rasulullah  saw  kembali memanggil Abdullah hadir ke hadapan beliau menjelang  Perang Khandaq. Usia Abdullah bin Umar  ketika itu 15 tahun.  Rasulullah  saw  lalu  mengijinkan  Abdullah  berperang.”  Nafi’  berkata,  “Aku  datang  kepada Umar bin  Abdul  Aziz  yang  merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat  tersebut.  Khalifah  berkata,  “Usia  ini  (15  tahun)  adalah  batas  antara anak‑anak dan dewasa.” Dan beliau perintahkan kepada  para gubernur untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja  yang telah mencapai usia 15 tahun.” (HR Bukhari).

Jadi,  berdasarkan  pada  hadits  Nabi  saw  tersebut,  dan  juga berbagai fakta sejarah pendidikan, bisa dipahami, bahwa  usia 15 tahun adalah masa anak‑anak memasuki masa dewasa.  Jangan  sampai  dalam  masa  usia  15  tahun,  para  siswa  tidak  disiapkan jiwa dan raganya agar benar‑benar menjadi manusia  dewasa yang sejati. Rasulullah saw telah memberikan teladan,  bagaimana  mendidik  anak‑anak  umur  belasan  tahun  menjadi  matang di usia yang sangat muda.

Kisah yang masyhur menyebutkan, bahwa Usamah bin  Zaid, diangkat oleh Nabi saw menjadi Panglima Perang di usia  18 tahun. Dalam sebuah peperangan melawan Romawi, Usamah  memimpin  pasukan  yang  di  dalamnya  ada  Abu  Bakar  ash‑ Shiddiq r.a., Umar bin Khathab r.a., dan lain‑lain. Usamah mulai  diijinkan ikut perang pada usia 15 tahun. Abdullah bin Umar dan al‑Barra’ saat berumur 13 tahun  belum  diijinkan  Nabi  untuk  ikut  perang,  meskipun  mereka mengajukan diri. Diantara sahabat Nabi saw yang masuk Islam  di usia yang sangat muda adalah Ali bin Abi Thalib (10 tahun),  Thalhah  bin  Ubaidillah  (14  tahun),  Zubair  bin Awwam  (16  tahun), Saad bin Abi Waqqash (17 tahun), Said bin zaid 15 tahun,  dan sebagainya.

(http://risalahislamterkini.blogspot.co.id/2015/06/anak‑anak‑muda‑di‑sekitar‑rasulullah‑saw.html).

Di  Indonesia, pun banyak dijumpai tokoh‑tokoh yang  sudah matang jiwa dan raganya di usia belasan tahun. Menurut  Dr.  Hamid  Fahmy  Zarkasyi,  ayah  beliau,  yakni  KH  Imam  Zarkasyi mendirikan pesantren Gontor di usia 16 tahun.  Haji  Agus Salim diangkat sebagai Konsul Hindia Belanda di Jeddah  pada usia 20 tahun. Mohammad Natsir sudah berdebat dengan  pendeta Belanda saat duduk di bangku SMA. Lulus SMA, Pak  Natsir  terjun  langsung  menjadi  guru  dan  mendirikan  sekolah  sendiri  (Pendis:Pendidikan  Islam),  tahun  1932.  Panglima  Besar  Soedirman menjadi kepala sekolah pada umur 20 tahun.  Sejumlah tokoh PKI pun mulai berkiprah di usia sangat  muda. Contohnya, Semaoen. Pada usia sekitar 18 tahun, ia sudah  memimpin  Sarekat  Islam  (SI)  Semarang  bersama  rekannya,  Darsono.  Akhirnya,  Semaoen  keluar  dari  SI  dan  mendirikan  Persyarekatan  Komunis  India  (PKI)  yang  kemudian  menjadi  Partai Komunis Indonesia/PKI. (lihat Suradi; Haji Agus Salim dan  Konflik  Politik  dalam  Sarekat  Islam,  Pustaka  Sinar  Harapan,  1997).  h ps://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/22/kaum‑ muda‑penggerak‑revolusi‑indonesia/ Dr. Erma Pawitasari, dalam sebuah makalahnya berjudul  “Pendidikan Khusus Perempuan: Antara Kesetaraan Gender dan  Islam”, mengungkap hasil penelitian Frances E. Jensen, seorang  ahli  neurologi,  yang  menemukan  bahwa  pertumbuhan  otak  perempuan  mencapai  puncaknya  pada  usia  12‑14  tahun.  Sedangkan otak laki‑laki‑laki mencapai puncak pertumbuhannya  pada usia 14‑16 tahun. 

Kemandirian

Berdasarkan data sejarah dan fakta perkembangan otak  manusia tersebut, bisa disimpulkan, bahwa rentang usia sekitar  12‑18 tahun (jenjang SMP‑SMA) adalah masa keemasan untuk menanamkan adab dan pemikiran Islam. Sejarah pendidikan di  Indonesia juga menunjukkan hal yang sama. Pada tahun 1906, di  Jakarta sudah berdiri sebuah sekolah (Jamiat al‑Khair) setingkat  SMA  yang  guru‑gurunya  adalah  ulama‑ulama  dari  Tunisia,  Sudan, Saudi dan lain‑lain. 

Menurut  Pak  Natsir,  ketika  duduk  di  bangku  SMA  Belanda di Bandung, ia diwajibkan membaca minimal 36 buku  untuk  satu  mata  pelajaran.  Dulu,  lulusan  Mu’allimin  dari  berbagai lembaga dan organisasi Islam sudah disiapkan untuk  menjadi  manusia  dewasa  yang  mampu  terjun  ke  tengah  masyarakat sebagai guru yang baik.

Jadi,  itu  semua  menunjukkan,  bahwa  “masa  SMA”  (sekitar  15‑18  tahun)  bukanlah  sekedar  masa  persiapan  untuk  memasuki  jenjang  Pendidikan  Tinggi.  Keliru,  jika  ada  pemikiran, mereka masih anak‑anak, sehingga jangan diberikan  beban pendidikan dengan muatan pemikiran yang serius. Karena  “usia SMA” adalah usia dewasa, maka para siswa harus dididik  sebagai  orang  dewasa,  dan  disiapkan  menjadi  pejuang,  untuk  terjun ke tengah masyarakat atau menjadi pemimpin saat kuliah  di Perguruan Tinggi.

Dengan  dasar  pemikiran  seperti  itulah,  maka  kami  mendirikan sebuah program pendidikan bernama “Pesantren for  the  Study  of  Islamic  Thought  and  Civilization  (PRISTAC).  PRISTAC  adalah  program  pendidikan  pesantren  (non‑formal)  setingkat SMA, yang dirancang untuk melahirkan kader‑kader  intelektual muslim yang beradab jiwa‑raga, cerdas, mandiri, cinta  ilmu  dan  semangat  ber‑amar  ma’ruf  nahi  munkar  untuk  kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia.

Ketika  didirikan,  PRISTAC  dipimpin  oleh  Dr.  Alwi  Alatas, doktor ilmu sejarah di International Islamic University  Malaysia,  penulis  produktif,    dan  praktisi  pendidikan  yang  berpengalaman.  Saat ini, PRISTAC dipimpin langsung oleh DR.  Muhammad Ardiansyah. Disamping itu, ada sejumlah guru yang  terdiri  atas  para  doktor  dan  pakar  pemikiran  dan  peradaban  Islam yang ikut mengajar. Bahasa pengantar digunakan bahasa  Indonesia dan bahsa Inggris, dengan bahasa Arab sebagai bahasa  riset.

Jadilah Pejuang

Merujuk  QS  Luqman  ayat  17,  maka  jelas  kita  diperintahkan  Allah  SWT  agar  menyiapkan  anak‑anak  kita  menjadi pejuang penegak kebenaran. “Wahai Anakku, dirikanlah  shalat,  dan  berjuanglah  menegakkan  kebaikan  dan  mencegah  kemunkaran,  dan  bersabarlah  terhadap  apa  yang  menimpamu…”  (QS  Luqman:  17).  QS  al‑Anfal:65‑66  menjelaskan,  bahwa  Nabi  Muhammad  saw  diperintah  menyiapkan orang‑orang mukmin agar memiliki kekuatan jauh  lebih  hebat  dari  orang‑orang  kafir.  QS  Ali  Imran:110  pun  menegaskan  bahwa  umat  Islam  adalah  umat  terbaik,  yang  tugasnya melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Begitu pentingnya kewajiban amar ma’ruf nahi munkar  itu,  sampai  Imam  al‑Ghazali  dalam  Kitab  Ihya’  Ulumiddin  menyebutkan, bahwa aktivitas amar ma’ruf nahi munkar adalah  aktivitas  yang  menentukan  hidup  dan  matinya  umat  Islam.  Karena  itu,  jika  umat  Islam  kalah  dalam  berbagai  bidang  kehidupan, maka patut dilakukan evaluasi yang serius kondisi  pendidikan  kita. Apakah  sekolah,  keluarga,  pesantren,  masjid,  majelis  ta’lim,  dan  juga  Perguruan  Tinggi  Islam  benar‑benar  serius menyiapkan peserta didiknya untuk menjadi pejuang amar  ma’ruf nahi munkar?

Kita  ingat  pula,  bahwa  sejak  tahun  1977,  dalam  Konferensi Internasional Pendidikan Islam di Kota Mekkah, “The  purpose  for  seeking  knowledge  in  Islam  is  to  inculcate  goodness  or  justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam  is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent  in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”.

Teori  pendidikan Prof. Naquib al‑Attas yang fenomenal adalah bahwa  krisis multidimensi yang diderita oleh umat Islam saat ini adalah  berakar pada “loss of adab” (hilang adab).  Teori  Prof.  al‑A as  itu  mempunyai  rujukan  yang  kuat  dalam al‑Quran, hadits Nabi, dan tradisi pendidikan para ulama  salaf.  Dalam Tafsir Ibn Katsir, disebutkan bahwa Ali bin Abi  Thalib  r.a.  menjelaskan  makna  QS  at‑Tahrim:6:  “Didiklah  keluargamu agar menjadi manusia beradab dan berilmu.”  Sabda Nabi saw: “Akrimū aulādakum, wa‑ahsinū adabahum.” (Muliakanlah  anak‑anakmu dan  perbaikilah adab mereka). (HR Ibn Majah).

Imam  asy‑Syafii  rahimahullah,  pernah  ditanya,  “Bagaimana  usaha  Tuan  dalam  mencari  adab?”  Sang  Imam menjawab,  ”Aku  senantiasa  mencarinya  laksana  seorang  ibu  yang mencari anak satu‑satunya yang hilang.” (Kitab Adab al‑  ‘ Ālim wal‑Muta’allim,  karya KH Hasyim Asy’ari).

Untuk menanamkan adab dalam diri santri, pada umur  10‑14 tahun, para santri Pesantren at‑Taqwa (Shoul Lin al‑Islami)  Depok, telah diajarkan kitab‑kitab adab berbahasa Arab dan Arab  Melayu.  Dalam pembinaan badan, setiap hari mereka berlatih  silat, pagi dan sore.  Itu semua dilakukan, agar ketika memasuki  jenjang SMA, mereka sudah memiliki adab yang baik; mereka  sudah beradab jiwa dan raga; mereka sudah terbangun jiwa dan  raganya; dan sudah memiliki sikap cinta ilmu. Alhamdulillah,  kami bersyukur kepada Allah, bahwa program pendidikan yang  singkat itu telah menampakkan hasil yang cukup baik. Tentu saja  itu  semua  juga  dipengaruhi  oleh  faktor  kesungguhan  dan  keikhlasan para guru dan dukungan orang tua.

Akhirul Kalam, untuk menunaikan amanah kita sebagai  orang tua, jangan sampai kita menyia‑nyiakan “usia SMP dan SMA”, dimana anak‑anak sebagian besar waktunya digunakan  hanya untuk latihan menjawab soal‑soal ujian.  Jangan sampai  mereka tidak dilatih untuk menjadi manusia beradab. Mereka  juga  harus  dilatih  menjawab  soal‑soal  kehidupan;  dikenalkan  secara serius siapa Allah, siapa dirinya, dan hakikat dunia serta  hakikat kehidupan akhirat.  Kita  simak,  ungkapan‑ungkapan  indah  gubahan  kata  Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, yang berisikan ajaran‑ajaran adab:

Barang siapa tiada memegang agama sekali‑sekali tiada boleh dibilangkan nama
Barangsiapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

Barangsiapa mengenal Allah suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
Barangsiapa mengenal diri maka telah mengenal Tuhan yang bahri
Barangsiapa mengenal dunia tahulah ia barang yang terperdaya
Barangsiapa mengenal akhirat tahulah ia dunia mudharat (fasal 1)

Jika hendak mengenal orang berbangsa lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia sangat memeliharakan yang sia‑sia
Jika hendak mengenal orang mulia lihatlah kepada kelakuan dia
Jjika hendak mengenal orang yang berilmu bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai (fasal 5).

Itulah  sebagian  contoh  indahnya  ajaran  adab  dalam  Kitab klasik Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang ditulis huruf  Arab Melayu. Sayang, jika khazanah yang begitu indah, tidak  diajarkan  di  rumah  dan  sekolah‑sekolah  kita. Pendidikan  kita  harus dirancang untuk melahirkan manusia‑manusia yang adil  dan  beradab.  Ketika  lulus  jenjang SMA,  mereka  telah  siap  menjadi  manusia  dewasa  yang  bermanfaat  bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya. Mereka siap terjun  sebagai  pendidik,  sekaligus  siap  menjadi  pemimpin  ketika  melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.

KURIKULUM

Kurikulum PRISTAC dirancang secara dinamis dengan  tetap mengacu kepada model baku pendidikan Islam yang telah dirumuskan  oleh  Umar  bin  Khathab  r.a.,  yaitu  “ta‑addabu  tsumma  ta’allamu”  (beradablah,  kemudian  berilmulah!). Penguasaan ilmu didasarkan atas konsep proporsionalitas ilmu‑ ilmu fardhu ain dan ilmu‑ilmu fardhu kifayah.