Momentum Bersejarah, Peluncuran Buku Sejarah, Karya Guru Sejarah

Oleh: Dr. Adian Husaini, (Guru Pesantren at-Taqwa Depok)

“Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia” adalah salah satu materi training favorit saya, saat masih menjadi aktivis mahasiswa di era 1980-an. Ketika itu, salah satu pembicara terkenal adalah H. Hussein Umar, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Melalui materi training itulah saya lebih memahami perjalanan perjuangan umat Islam Indonesia dan kemudian menuliskannya dalam beberapa buku.

Tulisan-tulisan tentang sejarah Islam karya Buya Hamka, Pak Natsir, KH Abdullah bin Nuh, Ahmad Mansur Suryanegara, Abdul Qadir Jaelani, Ridwan Saidi, dan terutama karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sangat menarik perhatian saya sejak lama. Banyak lagi penulis sejarah lain yang telah berusaha meluruskan sejarah perjuangan umat Islam Indonesia.

Alhamdulillah, kini muncul anak-anak muda yang melanjutkan tradisi kajian sejarah Islam, dengan lebih serius. Diantaranya lahir dari program Kaderisasi 1000 Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, seperti Dr. Tiar Anwar Bahtiar, Dr. Susianto, Dr. Muhammad Isa Anshari, Arif Wibowo M.PI., dan sebagainya.

Dari mereka itu pula, kini muncul banyak sejarawan muda. Salah satunya adalah Ahda Al-Ghifari, yang hari ini, Sabtu 14 November 2020, meluncurkan buku perdananya: “BUNGA RAMPAI SEJARAH PERJUANGAN UMAT ISLAM INDONESIA”.

Ahda Abid al-Ghifari (29 tahun), guru Pesantren At-Taqwa Depok, dikenal aktif mengkaji, mengajar, dan menulis artikel-artikel sejarah. Membaca buku karya Ahda al-Ghifari ini, tampak bahwa ia bukan sekedar seorang guru sejarah biasa. Tapi, ia telah menjadi seorang sejarawan. Buku itu menunjukkan keluasan wawasannya tentang sejarah umat Islam Indonesia, dan juga kecintaan dan semangatnya untuk melakukan proses Islamisasi sejarah Nusantara.

Sejak tahun 2014, Ahda al-Ghifari telah menjadi guru sejarah di Pesantren at-Taqwa Depok. Perjalanannya sebagai sejarawan cukup panjang. Lulus sarjana Pendidikan Sejarah dari sebuah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tahun 2001, Ahda melanjutkan pendidikan ke Ma’had Aliy Imam al-Ghazali (MAIG) di Solo.

Di MAIG inilah Ahda al-Ghifari – kelahiran tahun 1991 — menjalani pendidikan intensif selama setahun bersama para guru yang baik. Ia nyantri di MAIG dengan serius, dan mengasah kemampuan intelektualnya bersama para dosen sejarah di MAIG, seperti Arif Wibowo MPI, Dr. Muhammad Isa Anshari, Dr. Susianto, dan sebagainya.

MAIG sangat menekankan budaya ilmu. Pendidikan setingkat S2 ini tidak memberikan gelar akademik. Tetapi, mahasantrinya harus menulis Tesis yang kualitasnya juga setingkat Tesis S-2. Keikhlasan dalam mencari ilmu, menjadi landasan penting diraihnya ilmu yang bermanfaat.
Karena itulah, bisa dipahami, selama mengajar sejarah di Pesantren at-Taqwa, Ahda al-Ghifari bukan seperti guru sejarah biasa. Ia dikenal sebagai guru yang menekankan para santri agar mencintai dan memahami sejarah dengan benar. Karena begitu semangatnya dalam mengajar sejarah, seringkali suaranya terdengar nyaring, mengalahkan suara guru-guru lainnya.

*****

Pendidikan Sejarah merupakan mata pelajaran yang sangat penting dalam pembentukan wawasan dan kepribadian para santri/pelajar. Karena itu, para guru yang mengajar mata pelajaran ini memang para guru yang mencintai dan menguasai materi sejarah dengan baik.

Ingatlah sebuah rumus penting dari kebangkitan peradaban sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at The Cross Roads: “No civilization can prosper or even exists after having lost this pride and the connection with its own past.” (Tidak ada satu peradaban yang akan berkembang, atau akan eksis, jika peradaban itu telah hilang perasaan bangganya, atau terputus dari sejarahnya).

Karena itu, jika hendak membunuh satu peradaban, maka hilangkan rasa bangga pada peradaban itu dan putuskanlah peradaban itu dari sejarahnya! Di sinilah kita paham, mengapa penjajah Belanda sangat serius dalam meneliti dan merekonstruksi sejarah Nusantara yang memperkecil peranan umat Islam.

Jadi, belajar sejarah bukan sambilan, apalagi asal-asalan. Pendidikan Sejarah memegang peran penting dalam pendidikan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia. Patut dicatat, bahwa sebagian besar isi al-Quran adalah sejarah.

Jadi, jangan sampai para santri, pelajar, dan mahasiswa kita mendapatkan pelajaran sejarah yang membuat mereka lupa pada asal-usul dan tugas hidupnya sebagai pelanjut perjuangan para nabi dan para ulama kita.

Karena itu, momentum peluncuran buku Sejarah yang ditulis oleh Ahda Abid al-Ghifari – guru sejarah di Pesantren At-Taqwa – ini merupakan peristiwa penting yang menandai lahirnya seorang guru sejarah dan sekaligus seorang sejarawan.

Semoga akan lahir semakin banyak lagi guru-guru sejarah yang sejarawan dan sekaligus para pejuang tegaknya nilai-nilai Islam di Nusantara, sebagaimana telah diperjuangkan oleh para ulama pewaris Nabi. Amin. (Depok, 14 November 2020).

Leave a Comment