Secara Umum, Kurikulum di Pesantren at-Taqwa Depok berporos kepada tiga hal:

ADAB, KITAB, SILAT

 

ADAB ditanamkan dalam bentuk kajian, taushiyah, keteladanan, pembiasaan, dan penerapan sanksi aturan. Setiap santri diharapkan memiliki adab yang baik terhadap diri sendiri, adab beragama (kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW), adab kepada guru, adab kepada ilmu, adab kepada sesama, dan adab kepada lingkungan.

KITAB-KITAB yang dikaji di Pesantren at-Taqwa Depok wajib dikuasai para santri sesuai dengan kadar kemampuannya. Jika seorang santri mampu menyelesaikan target penguasaan kitab, maka ia diberikan kesempatan untuk mempelajari kitab berikutnya.

SILAT wajib dikuasai oleh para santri dengan target bisa membela diri dan menjadi bekal pertahanan diri dalam menjalankan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.

Kurikulum Pesantren at-Taqwa Depok mengacu kepada tiga prinsip pendidikan dalam Islam:

  1. Adab didahulukan
  2. Ilmu fardhu ain diutamakan
  3. Ilmu fardhu kifayah dikuasai secara proporsional, sesuai potensi santri dan kebutuhan masyarakat.

Kurikulum juga bersifat dinamis dan diaplikasikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan murid, meskipun tetap harus mengacu kepada target pencapaian standar kompetensi yang ditentukan.

Kurikulum di Ponpes at-Taqwa disusun dengan klasifikasi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah sebagaimana tradisi ilmu dalam Islam. Al-Qur’an, Hadits dan pandangan para ulama menjadi dasar penyusunan kurikulum ini.

Di dalam al-Qur’an maupun Hadits, setiap Muslim diwajibkan bertauhid, tidak syirik, beribadah dengan ikhlas, dan menyucikan hati dari sifat-sifat tercela. Kewajiban ini bersifat personal dan individu. Untuk mengamalkan semua kewajiban ini maka setiap santri perlu dibekali ilmu-ilmu yang fardhu ‘ain. Misalnya, ilmu aqidah, ilmu fiqh, dan ilmu akhlaq tasawuf.

Selain itu, al-Qur’an dan Hadits juga menyebutkan bahwa perlu ada sebagian orang yang mendalami ilmi agama (QS al-Taubah : 122), setiap  orang beramal sesuai dengan keadaannya masing-masing (QS al-Isra’ : 84). Di dalam hadits disebutkan bahwa “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap Muslim” (HR Ibn Majah). Kewajiban ini menurut para ulama dibagi menjadi dua, wajib ‘ain dan wajib kifayah. Dalam Hadits lain Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa “Manusia itu seperti barang tambang, ada yang emas, perak” (HR Bukhari dan Muslim). Artinya, masing-masing manusia memiliki perbedaan individu. Oleh karena itu, perlu diarahkan agar mendalami ilmu fardhu kifayah yang sesuai dengan keadaannya. Kemudian, Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang” (HR al-Thabrani).  Jadi, apapun keilmuan yang dipelajari, amal apapun yang dijalani, jika itu memberi manfaat, maka dia akan menjadi manusia yang baik. Inilah hakikat tujuan pendidikan dalam Islam yang ingin kami wujudkan.

Konsep klasifikasi ilmu ini telah dirumuskan oleh para ulama seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Nawawi, Imam al-Zarnuji, Syekh KH Hasyim Asy’ari, dan juga Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas. Jadi, bisa dikatakan, sanad keilmuan di pesantren at-Taqwa Depok ini mengikuti pandangan para ulama tersebut.

Open chat
Hubungi kami untuk respon cepat melalui WhatsApp.