Jihad Total Pesantren Ideal: Enam Tahun Pesantren At-Taqwa

Oleh: Dr. Adian Husaini

Pesantren At-Taqwa Depok, Sabtu (24/7/2021), menggelar acara Wisuda Santri di lapangan Ponpes At-Taqwa. Ada 50 santri yang diwisuda, di tiga tingkat pendikan Pesantren At-Taqwa: 18 santri Pesantren Shoul-Lin al-Islami (setingkat SMP), 22 santri PRISTAC (setingkat SMA), dan 10 mahasantri AT-TAQWA COLLEGE (ATCO, setingkat Perguruan Tinggi).

 Di tengah situasi Covid-19 yang masih memprihatinkan, wisuda dilaksanakan secara gabungan (daring dan luring). Wali santri mengikuti acara wisuda secara daring. Menyaksikan prestasi dan sambutan tiga perwakilan santri, saya merasa terharu dan bahagia. Para santri yang ditunjuk — Farros Halim (SHOUL-LIN), M. Irfan Hakim (PRISTAC), dan Azzam Habibullah (ATCO) – tampil luar biasa menyampaikan pidato dalam bahasa Arab dan Inggris.

 Saya sama sekali tidak ikut campur dalam soal isi sambutan para santri. Tampak mereka menyampaikan sambutan dari pikiran dan hati mereka. Tiga wakil wali santri juga memberikan sambutan lewat zoom. Perasaan haru mewarnai kondisi wisuda. Seorang wali santri PRISTAC menyatakan, ia seperti menyaksikan wisuda tingkat sarjana. Sebab, para santri PRISTAC ditampilkan profilnya satu persatu, lengkap dengan makalah akhirnya.

Makalah-makalah para santri yang rata-rata berusia 14-16 tahun itu telah dicetak dalam satu buku setebal 481 halaman dengan judul: “Bunga Rampai Pemikiran Santri PRISTAC III.”

Berikut ini 22 nama santri dan judul makalah yang ditulisnya:  (1) Raihan Dzikri Hakim (Tafsir Ayat Pendidikan Syaikh Nawawi al-Bantani), (2) -Muhammad Nabil Abdurrahman (Pendidikan Integral Mohammad Natsir Solusi bagi Pendidikan Nasional), (3) Nuswatul Adibah (Pendidikan Indonesia Era Revolusi Industri 4.0 dalam Pandangan Islam), (4) Muhammad Abdurrahman Assajad (Keteladanan Dakwah Hamka), (5) Nailufar A. Albary (Peran PERSIS dalam Pendidikan Islam di Indonesia), (6) Athifa Fauziah Rahmah (Novel Dilan dalam Timbangan Adab), (7) Umar ar-Rantisi (Pemikiran Ibn Khaldun tentang Ilmu dan Guru), (8) Faisal Nabil Purnomo (Model Pendidikan Muhammad al-Fatih), (9) Vaisal Rahmat Hidayat (Islamisasi dan Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia), (10) Shofiyah Hafizhah Irvan (Orientalis dan Sejarah Islam), (11) Yasmin Khoirunnisa (Rohana Kudus dan Perjuangannya), (12) Alima Pia Rasyida (Kiprah Pesantren dalam Perubahan Sosio-Politik di Masa Kerajaan Islam), (13) Ali Sina Albasyiri (Wacana Islam Liberal di Medsos: Kajian Kritis), (14) Muhamad Irfan Hakim (Konsep Agama Menurut HM Rasjidi), (15) Aditama Prima Mahadika (Pemikiran Pancasila Kasman Singodimedjo), (16) Faiz Abdurrahman (Keteladanan Kepemimpinan Umar bin Khattab), (17) Aufa Azizah (Peran Harun al-Rasyid dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan), (18) Umar Thoriq Ramadhan (Pengaruh Zionisme di Masa Sultan Abdul Hamid II dan Keruntuhan Turki Utsmani), (19) Syuhda Fakhrun Nisa (Kiprah Perempuan dalam Peradaban Islam), (20) Azzahra Azka Salsabila (Keluarga dalam Perspektif Feminisme dan Islam), (21) Habiba Zahra (LGBT dalam Perspektif Feminisme dan Islam), Ghaitsa Sahira Putri (Feminisme: Dari Problem Kristen Barat hingga Dekonstruksi Syari’ah).

Sementara itu, ada 10 skripsi yang ditulis oleh para mahasantri At-Taqwa College Depok. Berikut judul-judulnya: (1). “The Globalisation Effect on Islamic Thought” (Faris Ranadi). (2). “Netralitas Ilmu; Satu tinjauan Filosofis” (Azzam Habibullah). (3). “Konsep Ilmu Sayyid Usman; Satu Tinjauan Khazanah Islam”.  (Dzikri Muhammad Dzakir). (4).  “Pesan Pendidikan Berbasis Adab pada Naskah Gurindam Duabelas”  (Ahmad Faruq). (5).  “Meneladani Metode Pendidikan Rasulullah”. (Rofiq Anwar). (6) “Tradisi Ilmu dalam Peradaban Islam; Solusi Kebodohan dan Kekacauan Ilmu Pengetahuan.” (Fatih Madini). (7). “Meneladani Wartawan Penjuang Sejati; Nurbowo” (M. Fadhlan Adzim). (8) “Sumbangan Ilmu Imam Syafi’i Terhadap Islam” (Fais Rasyidi). (9) “Pendidikan Adab dan Resolusi Jihad Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari” (Asalin Mushaffa). (10). “Desakralisasi Sastra; antara Islam dan Sekuler” (Zein ad-Dien).

*****

Enam tahun lalu, 2015, Pesantren At-Taqwa Depok dimulai dengan jumlah santri sebanyak 9 orang (7 putra, 2 putri). Awalnya, kami mengontrak sebuah Ruko Tiga Lantai di daerah Pondok Duta Cimanggis Depok. Setahun kemudian, pindah lokasi kontrakan. Kini, Pesantren At-Taqwa menempati lahan wakaf seluas 5000 m2 di Cilodong Depok; berlokasi sekitar 700 meter dari Alun-alun Kota Depok.

Dari tahun ke tahun, jumlah santri semakin bertambah. Kini, seluruh santri Pesantren At-Taqwa berjumlah 179 orang, ditambah peserta program Kuliah Kepakaran Khusus (PK3) sebanyak 54 orang. Tentu saja, ini amanah yang bertambah berat. Sebab, inti pendidikan adalah penanaman nilai-nilai kebaikan, yang memerlukan keteladanan dan interaksi intensif antara guru dan santri.

Pesantren At-Taqwa dimulai dengan keyakinan akan kebenaran konsep pendidikan berbasis adab, yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw dan para ulama Islam sepanjang sejarah. Konsep itu dirumuskan dan diaktualkan kembali oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dalam Konferensi Pendidikan Islam pertama di Kota Mekkah, Prof. Naquib al-Attas menyampaikan teori penting, bahwa “the central crisis of muslim today is loss of adab”.

Meskipun pernah kuliah S3 di ISTAC-IIUM (Kampus yang didirikan Prof. Naquib al-Attas), dan beberapa kali berjumpa dan menyimak kuliah beliau, tetapi saya memerlukan pendalaman lagi. Maka, pada 2014, saya menjadi peneliti tamu selama tiga bulan di Center of Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization (CASIS) Universiti Teknologi Malaysia. Hasilnya sebuah paper dan sebuah buku terbit tentang konsep adab Prof. al-Attas dan penerapannya.

Pendalaman konsep adab juga ditulis oleh Mudir Pesantren At-Taqwa, Dr. Muhammad Ardiansyah dalam disertasinya berjudul “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi”. Selama menyusun konsep dan kurikulum pesantren, kami senantiasa berkonsultasi dengan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Bahkan, beliau beberapa kali menyempatkan diri berkunjung dan memberi kuliah di Pesantren At-Taqwa.

Alhamdulillah, saya berkesempatan membimbing dan menguji lebih dari 250 disertasi doktor Pendidikan Islam, serta mengunjungi ratusan pesantren, universitas, dan sekolah Islam. Semua itu memperkuat keyakinan bahwa konsep pendidikan Islam yang ideal memang sudah baku. Secara mudah, konsep itu ada dalam rumus TOP: (a) Tanamkan adab/akhlak mulia sebelum ilmu yang tinggi, (b) Oetamakan ilmu-ilmu fardhu ain dan (c) Pilih ilmu fardhu kifayah yang tepat.

Perjalanan enam tahun Pesantren At-Taqwa memberikan pengalaman berharga. Bahwa, kerja total diperlukan untuk mewujudkan pesantren ideal. Banyak hal lain harus dikorbankan. Sejak tahun 2010, saya mundur dari kepemimpinan sejumlah Organisasi Islam dan lebih fokus memikirkan dan mengurus pendidikan. Tahun 2017, saya pindah rumah, dan mulai menetap di Pesantren, hingga kini.

Ketua YPI At-Taqwa pun rela mengundurkan diri sebagai guru sertifikasi, dan secara total mengurus para santri. Mudir At-Taqwa pun berhenti sebagai guru di sekolah internasional dan secara total memimpin, mengajar, dan membimbing para santri. Begitu juga guru-guru di Pesantren At-Taqwa berkomitmen untuk memahami pendidikan sebagai satu perjuangan di jalan Allah SWT.

Enam tahun tentu masa yang masih sangat pendek untuk perjalanan sebuah pondok pesantren. Banyak anugerah telah Allah kucurkan kepada Pesantren At-Taqwa Depok. Tapi, masih banyak yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Mohon doanya selalu. (Depok, 24 Juli 2021).

Leave a Comment