Inilah Jejak Pemikiran Sunan Bonang, Mohammad Natsir, dan Syed Naquib Al-Attas tentang Imam Al-Ghazali

Oleh: Dr. Adian Husaini, Direktur At-Taqwa College Depok (www.adianhusaini.id)

Awal Februari 2021, At-Taqwa College Depok mulai membuka pendaftaran Program Kuliah Kepakaran Khusus (PK3) tentang pemikiran Imam al-Ghazali dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Program ini bersifat non-formal dan non-gelar. Secara kurikuler, setaraf dengan Program Pasca Sarjana Strata-2, dengan jumlah SKS sekitar 40.

Melalui kajian dan perenungan yang panjang, Pesantren at-Taqwa Depok telah memutuskan untuk menggunakan pemikiran Imam al-Ghazali sebagai landasan pendidikan utama. Melalui PK3 inilah diharapkan akan semakin terkuak ilmu dan hikmah tentang pemikiran Imam al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, sebagai modal kebangkitan umat Islam.

Pemikiran dan keteladanan Imam al-Ghazali terbukti memiliki pengaruh besar dalam kebangkitan umat Islam di era Perang Salib (mulai 1095 M). Juga, perkembangan Islam di Nusantara, tak lepas dari pengaruh pemikiran Imam al-Ghazali yang wafat tahun 1111 M.

Tahun 2019, buku ”Hākadzā Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hākadzā ’Ādat al-Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan oleh Ust. Asep Sobari Lc, kedalam bahasa Indonesia dengan judul: ”Model Kebangkitan Umat Islam: Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahudin dan Merebut Palestina.”

Ust. Asep Sobari mengenal buku ini saat kuliah di Universitas Islam Madinah. Dosennya, yaitu Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, meminta para mahasiswanya membaca buku penting tersebut. Buku ini menjelaskan ”model kebangkitan umat Islam” dengan mengambil studi kasus peran Imam al-Ghazali dan sejumlah ulama lain di era Perang Salib, yang dimulai tahun 1095.

Dengan mengenal pemikiran Imam al-Ghazali dan sejarah perjuangannya dalam dunia pendidikan, insyaAllah umat Islam akan mampu memahami masalah mereka secara mendasar dan mampu merumuskan solusinya dengan tepat. Pemikiran Imam al-Ghazali terbukti berpengaruh besar terhadap kesuksesan dakwah Islam di Nusantara ini. Hal itu telah ditulis oleh Dr. Muhammad Isa Anshari dalam disertasi doktornya: Pendidikan Aqidah Sunan Bonang di Program S3 Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Dalam kajiannya terhadap buku Het Boek van Bonang, ditemukan bahwa akidah Sunan Bonang tidak jauh berbeda dengan ajaran para ulama Ahlus Sunnah. Ajaran itu diambil dari kitab Ihyâ’ ‘Ulumiddîn karya Imam Al-Ghazali dan At-Tamhîd fî Bayân At-Tauhîd karya Abu Syakur As-Salimi. “Wedaling carita saking kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn lan saking Tamhîd,” demikian tulis Sunan Bonang dalam kitabnya itu.

Sunan Bonang dan Wali Songo lainnya hidup dan berjuang mengislamkan Nusantara – khususnya Tanah Jawa – pada abad ke-15 M. Jadi, sudah berlalu 500 tahun lalu. Pengaruh pemikiran Imam al-Ghazali juga begitu besar terhadap para ulama Nusantara lainnya, seperti Syekh Abdul Shamad al-Falimbani, yang kitab jihadnya — Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah — menjadi rujukan utama dalam jihad melawan penjajah di Aceh.

*****

Setelah era Wali Songo dan para ulama Nusantara sesudahnya, salah satu tulisan penting yang memberikan apresiasi tinggi terhadap pemikiran Imam al-Ghazali dilakukan seorang tokoh Islam dari kalangan ”modernis”, yaitu Mohammad Natsir. Tahun 1937, pada usianya ke-29 tahun, Mohammad Natsir menulis sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.

Dalam artikelnya, Natsir muda memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Teori kausalitas al-Ghazali, misalnya, mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya.

Menurut Mohammad Natsir, Imam Ghazali asalah seorang filosof-’aqli yang hebat. ”Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangan-karangan filosof yang lain,” tulis Mohammad Natsir.

Pemikiran Imam al-Ghazali itu, menurut Mohamamd Natsir, menunjukkan ketajaman akalnya. Al-Ghazali memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tetapi, bedanya dengan banyak filosof lainnya, al-Ghazali sadar akan keterbatasan akal. ”Akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui,” tambah Natsir lagi.

*****

Dalam buku ”Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud” (Depok: YPI at-Taqwa, 2020), saya menulis bab pertama dengan judul ” Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cucu Wali Bogor Pelanjut al-Ghazali.” Lebih jauh tentang sosok al-Attas, silakan dibaca dalam buku tersebut.

Prof. Syed Naquib al-Attas adalah pemegang anugerah Kursi Pemikiran Islam al-Ghazali di ISTAC, tahun 1993. Saat itu, wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan pidato tentang Prof. Naquib al-Attas: “Sepanjang hidup saya, saya amat bernasib baik kerana mendampingi beberapa ilmuwan besar. Prof. al-Attas merupakan salah seorang dari tokoh tersebut… Bahkan dalam bidang falsafah pengaruh beliau terhadap generasi kami begitu mendalam. Prof. al-Attas bukan sahaja sedia mencurahkan ilmu, tetapi sebagai seorang sahabat setia turut memberikan dorongan serta semangat dalam ketika dan saat genting.” (Lihat, Commemorative Volume on the Conferment of the al-Ghazali Chair of Islamic Thought, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993, hlm. 19).

Tahun 1993, Prof. Naquib al-Attas pernah menyatakan, bahwa Imam al-Ghazali hidup di era pergolakan agama dan intelektual yang diakibatkan oleh masuknya pandangan alam asing (alien worldview) ke dalam pemikiran dan kepercayaan kaum Muslim secara diam-diam, yang dibawa oleh para filosof Muslim dan berbagai aliran yang menyimpang.

“Kini, kaum Muslim juga menghadapi tantangan yang sama, yang muncul dari filsafat dan sains Barat modern sekular, teknologi dan ideologinya, yang menggerogoti nilai-nilai, gaya hidup, pemikiran dan kepercayaan, serta pandangan hidup Muslim, agar terjadi perubahan radikal yang sesuai dengan worldview sekular,” kata Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Begitulah kedudukan pemikiran Imam al-Ghazali yang kemudian dikembangkan dan diaktualkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Karena itu, Program Kuliah Kepakaran Khusus (PK3) Pemikiran Imam al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan program penting dan strategis. Semoga Allah SWT menolong kita semua. (Depok, 9 Februari 2021).

PROGRAM KULIAH KEPAKARAN KHUSUS AT-TAQWA COLLEGE DEPOK
http://attaqwa.id/2021/02/07/program-kuliah-kepakaran-khusus-setaraf-s2-at-taqwa-college-depok/

[pdf-embedder url=”http://atco.attaqwa.id/wp-content/uploads/2021/02/S2-ATCO.pdf” title=”S2 ATCO”]

Leave a Comment