Pesantren At‑Taqwa dimulai keberadaannya pada tahun 1998, dengan dibukanya Taman Pendidikan al‑Quran (TPA) di alamat Komplek Timah Blok CC V/100, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Dalam satu tahun, murid peserta didik yang mengaji al‑Quran mencapai sekitar 40 orang. Alhamdulillah, hingga tahun 2018, TPA at‑Taqwa masih tetap berlangsung. Taman Pendidikan al‑Quran adalah bentuk pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah yang mengutamakan kemampuan baca tulis al‑Quran untuk anak‑anak usia SD dan SMP.

Atas usulan para wali murid, TPA kemudian dikembangkan menjadi lembaga pendidikan formal (TK) yang beroperasi mulai tahun 2000. Hingga tahun 2018, jumlah lulusan TK at‑Taqwa sudah lebih dari 900 orang. Jumlah murid TK rata‑rata sekitar 100 orang, dengan guru sebanyak 12 orang, sejak tahun 2008, TK at‑Taqwa mendapat akreditasi dengan
peringkat “amat baik” (A).

Meskipun tercatat sebagai salah satu sekolah berkualitas tinggi yang dibuktikan dengan berbagai prestasi para guru dan
muridnya, TK at‑Taqwa tetap berpegang pada prinsip pendidikan Islam, bahwa pendidikan adalah suatu aktivitas
dakwah yang tidak membeda‑bedakan murid berdasarkan kemampuan finansialnya.

Lembaga Pendidikan at‑Taqwa menetapkan konsep “Pendidikan Berbasis Adab”. Maknanya, pendidikan ini dikelola
dengan sungguh‑sungguh dengan tujuan mengembangkan potensi murid sesuai dengan kemampuannya, sehingga dia kelak dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Sebab, kata Nabi Muhammad SAW: sebaik‑baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

Mulai tahun 2011, juga atas usulan sejumlah wali murid, dibukalah at‑Taqwa Qur’anic School tingkat Sekolah Dasar, yang dimulai dengan 23 murid. Kegiatan Belajar‑Mengajar “at‑Taqwa SD” ini dimulai dengan membangun satu saung kayu di  sebuah lahan pinjaman dari keluarga Bapak Azhar Zainuri, di Komplek Timah, Depok.

Tahap berikutnya, tahun 2012, YPI at‑Taqwa menerima tanah wakaf seluas 300 m2 di Gang Haji Usman Jalan RTM,
Kelapa Dua Depok, yang kini digunakan untuk lokasi KBM sekolah at‑Taqwa tingkat SD. Kini, sekolah at‑Taqwa tingkat SD telah memiliki murid sekitar 90 orang dan guru sebanyak 9 orang. Di lokasi tanah wakaf ini juga telah dibangun enam kelas (gedung berlantai dua), satu mushalla, kantor, kantin, dan satu bangunan kamar mandi.

Mulai tahun 2017, berdasarkan hasil musyawarah para guru dan pimpinan Yayasan, maka nama at‑Taqwa Qur’anic School tingkat SD diubah menjadi PADI (Pesantren Adab dan Ilmu). Nama itu diambil untuk lebih menekankan nama
“pesantren” sebagai satu bentuk pendidikan Islam ideal yang mengutamakan penanaman adab dan akhlak, serta keteladanan para guru.

Mulai tahun ajaran 2014/2015, karena adanya permintaan beberapa wali murid dan tuntunan kebutuhan untuk
mewujudkan suatu model pendidikan yang berbasis adab, di semua jenjang pendidikan, maka YPI at‑Taqwa membuka
Pesantren Shoul‑Līn al‑Islami, tingkat SMP. Murid inti dari Pesantren adalah alumnus A?aqwa Quranic School tingkat SD.
Pesantren ini bermula dengan 9 santri dan mengontrak rumah di Daerah Pondok Duta, Depok. Setelah kontrakan habis, pesantren berpindah kontrakan ke Komplek Timah, Depok. (Tentang nama Pesantren Shoul‑Lin, lihat h?ps://www.hidayatullah.com/kolom/catatan‑akhir‑pekan/read/2015/03/21/67073/pesantren‑shoul‑
lin.html).

Di tahun 2015 itu pula, YPI at‑Taqwa Depok menerima tanah wakaf di daerah Cilodong Depok, seluas 4.000 meter2.
Alhamdulillah, pada bulan April 2016, dimulailah pembangunan pesantren at‑Taqwa Depok. Dan mulai 1 Ramadhan 1437 H, pesantren di Cilodong itu secara resmi dibuka dengan pembacaan surat al‑Baqarah oleh mudir Ma’had, para guru, dan santri. Lalu, pada 11 Ramadhan 1437, para santri mulai menempati lokasi baru di Pesantren Cilodong. Pembukaan pendidikan dimulai dengan pengkhataman Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al‑Ghazali.

Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah SWT, perkembangan Pesantren at‑Taqwa Depok ini cukup pesat. Adab
dan ilmu para santri angkatan pertama secara umum sangat patut disyukuri. Mereka telah menamatkan dan menguasai
sejumlah kitab dasar, menguasai dasar‑dasar beladiri, dan memiliki kebiasaan ibadah sehari‑hari yang baik. Diyakini,
bahwa aspek keteladanan, kesungguhan, dan keikhlasan semua pihak yang terlibat sangat berpengaruh terhadap produk
pendidikan. Tetapi, di atas semua itu, semua hasil adalah merupakan rahmat dari Allah SWT.

Angkatan kedua Pesantren Shoul Lin (setingkat SMP), masuk lebih dari 10 santri. Sedangkan angkatan ketiga di atas 20 santri. Perkembangan jumlah santri ini menuntut kerja keras pimpinan dan guru‑guru di pesantren, karena amanah yang diterima menjadi semakin berat. Mendidik bukan sekedar mengajar atau menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi yang lebih penting dan mendasar adalah menanamkan nilai‑nilai kebaikan ke dalam diri para santri, sehingga menjadi semakin baik atau semakin beradab. Sebab, inti dari pendidikan adalah penanaman nilai‑nilai kebaikan atau keadilan, sebagaimana dikonsepkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al‑Attas.

Pada tahun 2017 ini pula, LPI at‑Taqwa Depok mulai membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu setingkat SMA, yang diberi nama PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). Secara lebih terperinci, konsep
PRISTAC dipaparkan di bagian akhir buku panduan ini. Tetapi, intinya, para santri PRISTAC disiapkan untuk menjadi insan beradab yang memiliki kemandirian, dan kesiapan terjun ke tengah masyarakat; baik siap kerja, siap berdakwah, dan siap membina rumah tangga.

Konsep pendidikan Islam memandang umur 15 tahun adalah usia dewasa, sehingga murid harus diupayakan telah
menjadi dewasa secara pemikiran dan jiwa pada saat tubuhnya memasuki usia akil‑baligh. Pada usia 15‑18 tahun, murid disiapkan menjadi insan mandiri dalam keilmuan dan sikap hidup; bukan sekedar dibekali persiapan masuk perguruan
tinggi. Secara lebih jauh tentang konsep PRISTAC, bisa disimak artikel berikut: http://m.hidayatullah.com/kolom/catatan‑akhir‑pekan/read/2016/11/27/106366/jangan‑sia‑siakan‑masa‑sma.html

Pada tahap berikutnya, setelah PRISTAC, tahun 2018 ini, para pimpinan pesantren at‑Taqwa bersepakat untuk mendirikanPesantren Tinggi at‑Taqwa (A?aqwa College/AtCo). Gagasan ini juga didasari pentingnya mengawal proses pendidikan para santri at‑Taqwa, agar mereka bisa meneruskan proses pendidikan berbasis adab pada jenjang pendidikan tinggi. Bahkan, pendidikan pada jenjang Perguruan Tinggi inilah sebenarnya merupakan jenjang terpenting dalam pendidikan seseorang. Sebab, pada jenjang ini dilahirkan para calon guru atau pemimpin. Pendidikan Tinggi inilah yang melahirkan para guru atau orang tua yang akan mendidik anak‑anak atau murid‑muridnya, dimana sang guru akan menjadikan anaknya ‘muslim’, ‘yahudi’, ‘nasrani’ atau ‘majuzi’. Begitulah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. Tentang At-Taqwa College, simak: https://www.wartapilihan.com/dr‑adian‑luncurkan‑perguruan‑tingi‑
taqwa‑at-taqwa‑college/

Jadi, di Pondok Pesantren at‑Taqwa Depok, saat ini terdapat Tiga Jenjang Pendidikan non‑Formal, yaitu: Pesantren
Shoul‑Lin al‑Islami (Setingkat SMP), PRISTAC (Setingkat SMA), dan A?aqwa College (Setingkat S‑1). Karena sifatnya yang non‑Formal, maka Pesantren at‑Taqwa mempersilakan dan membantu para santrinya untuk meraih legalitas pendidikan formal, berupa Ujian Nasional Paket B dan C, serta kuliah formal di Perguruan Tinggi tertentu.