QS AL-TAHRIM:6 & TAFSIRNYA

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Menurut pakar tafsir di kalangan sahabat, Ibn Abbas dan Ali ibn Abi Thalib, tafsiran ayat ini adalah

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

Didiklah mereka dengan adab, dan ajarkanlah mereka ilmu.

Ayat dan tafsiran ini juga dipertegas oleh Umar ibn al-Khattab ra, yang  berkata

تَأَدَّبُوْا ثُمَّ تَعَلَّمُوْا

Pelajarilah adab kemudian baru pelajari ilmu.

 

HADITS

 

أَكْرِمُوا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ

Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah perilaku mereka (HR Ibn Majah, Sunan Ibn Majah,  No. 3671)

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Tidak ada pemberian orangtua kepada anaknya yang lebih baik dibandingkan dengan adab yang baik. (HR Ahmad, Musnad Ahmad, No. 15439. HR al-Hakim dalam Mustadrak ‘ala al-Shahihain No. 7679)

 

PANDANGAN ULAMA

 

Abdullah Ibn al-Mubârak, berkata:

نَحْنُ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang banyak.

Yusuf ibn al-Husein berkata :

بِالْأَدَبِ يُفْهَمُ الْعِلْمُ، وَبِالْعِلْمِ يَصْلُحُ الْعَمَلُ، وَبِالْعَمَلِ تُنَالُ الْحِكْمَةُ

Dengan adab, ilmu dapat dipahami. dengan ilmu, amal menjadi baik. dan dengan amal, (hikmah) kebijaksanaan akan diperoleh

Abdurrahman ibn al-Qasim, salah seorang murid Imam Malik, berkata

خَدَمْتُ الْإِمَامَ مَالِكًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِشْرِيْنَ سَنَةً، فَكَانَ مِنْهَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَنَةً فِي تَعْلِيْمِ الْأَدَبِ، وَسَنَتَانِ فِي تَعْلِيْمِ الْعِلْمِ، فَيَا لَيْتَنِيْ جُعِلَتِ الْمُدَّةُ كُلُّهَا فِي تَعْلِيْمِ الْأَدَبِ

Aku berkhidmat kepada Imam Malik selama dua puluh tahun, delapan belas tahun dihabiskan untuk mempelajari adab, dan hanya dua tahun mempelajari ilmu. Alangkah sayangnya, seandainya semua waktu itu dihabiskan untuk mempelajari adab.

Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i dalam sebuah riwayat disebutkan

كَيْفَ شَهْوَتُكَ لِلْأَدَبِ؟ فَقَالَ أَسْمَعُ بِالْحَرْفِ مِنْهُ مِمَّا لَمْ أَسْمَعْهُ فَتَوَدُّ أَعْضَائِي أَنَّ لَهَا أَسْمَاعًا تَتَنَعَّمُ بِهِ.  قِيْلَ: كَيْفَ طَلَبُكَ لَهُ؟ قَالَ: طَلَبُ الْمَرْأَةِ الْمُضِلَّةِ وَلَدَهَا وَلَيْسَ لَهَا غَيْرُهُ

Bagaimana keinginanmu terhadap adab? ia menjawab, ketika aku mendengar satu hal tentang adab maka seluruh anggota tubuhky merasakan nikmat karenanya. Ia ditanya lagi “Bagaimana engkau mencari adab. Ia menjawab “Seperti seorang wanita yang kehilangan anaknya dan ia tidak memiliki apapun selain anak itu.

Dzun Nun al-Mishri berkata

إِذَا خَرَجَ الْمُرِيْدُ عَنِ اسْتِعْمَالِ الْأَدَبِ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنْ حَيْثُ جَاءَ

Jika murid tidak mengindahkan adab, maka ia akan kembali lagi dari tempat di mana ia datang (memulai perjalanan spiritual).

Maksudnya, seorang murid yang mengabaikan adab, maka dia tidak berhak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Justru dia harus mengulangi lagi pendidikannya dari dasar.

Ruwaim juga berkata

يَا بُنَيَّ اِجْعَلْ عِلْمَكَ مِلْحًا وَأَدَبَكَ دَقِيْقًا

Hai anakku, jadikanlah ilmu kamu garam dan adabmu tepungnya.

Maksudnya, jika diumpamakan sebuah kue, maka kue yang baik itu komposisi tepung lebih banyak daripada garam. Jika sebaliknya, maka kue tidak akan enak dimakan. Begitu juga manusia, adabnya harus lebih banyak dari ilmunya. Jika ilmunya banyak tapi adabnya kurang, maka dia tidak akan menjadi manusia yang berguna.

Imam al-Ghazali juga menegaskan

ثُـمَّ يَبْتَدِئُ ثَانِيًا باِلتَّأْدِيْبِ، ثُـمَّ بِالتَّعْلِيْمِ. فَإِنَّ التَّعْلِيْمَ لاَ يُـمْكِنُ إِلاَّ بَعْدَ التَّأْدِيْبِ، لِأَنَّ مَنْ لَيْسَ لَهُ أَدَبٌ لَيْسَ لَهُ عِلْمٌ

Kemudian selanjutnya dengan proses penanaman adab (ta’dib), lalu dengan pengajaran ilmu (ta’lim). Karena ta’lim tidak mungkin berhasil kecuali setelah ada proses ta’dib. Karena orang yang tidak memiliki adab, tidak akan memiliki ilmu.

Ulama lain berkata

عُلُوُّ الدَّرَجَاتِ إِنَّمَا يَكُوْنُ بِزِيَادَةِ الْأَدَبِ

Derajat (nilai) yang tinggi hanya bisa dicapai dengan peningkatan adab

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ilmuwan Melayu, Pakar Pemikiran dan Pendidikan Islam menyatakan

The aim of educatin in Islam is to produce a good man. The fundamental element inherent in the concept of education in Islam is the inculcation of adab (Ta’dib)

 

LANDASAN KONSTITUSIONAL

Sila kedua Pancasila juga menyatakan, bahwa Indonesia berdasarkan

Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di dalam Pasal 31 ayat (c) UUD 1945 juga disebutkan;

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Di dalam Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 tertulis dengan jelas bahwa

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Open chat
Hubungi kami untuk respon cepat melalui WhatsApp.